HomeBeritaWisatawan Belum Patuhi KTR Malioboro

Wisatawan Belum Patuhi KTR Malioboro

Author

Date

Category

JOGJA, tiras.co – Jalur pedestrian Malioboro yang telah menjadi kawasan tanpa rokok (KTR) ternyata masih dilanggar. Terbukti banyak puntung rokok berserak di sana. Ini menandakan Perda Kota Yogyakarta tentang KTR di Malioboro belum berjalan maksimal.

”Kami melakukan kegiatan sosial bersih-bersih puntung rokok dari Pasar Beringharjo hingga DPRD DIY selama dua jam sejak pukul 08.00 dan berhasil mengumpulkan 1,5 kilogram puntung rokok,” ungkap Ketua DPD Federasi Serikat Pekerja Tembakau Makanan Minuman (FSPRTMM) DIY, Waljid Budi Lestarianto dalam bincang-bincang ”Berbagi Ruang di Malioboro” di Selie Kopi Batik Adiningrat Malioboro Yogyakarta, kemarin.

Diskusi terkait KTR di Malioboro juga menghadirkan anggota DPRD Kota Yogyakarta dan  pegiat Kopi Nusantara. Sebelum acara tersebut,  Waljid bersama puluhan pekerja yang tergabung dalam FSPRTMM melakukan aksi simpatik. Di sepanjang Malioboro, mereka memunguti puntung rokok yang dibuang sembarangan. Dalam aksi simpatik, merekajuga sempat menyemprotkan desinfiktan di kursi-kursi pedestrian Malioboro, serta membagi masker kepada  pejalan kaki.

Kurang Paham

Waljid menduga sebagian  warga Kota Yogyakarta sudah paham jika Malioboro merupakan KTR, tapi wisatawan yang berkunjung dari luar kota kemungkinan kurang paham. Sehingga mereka merokok dan membuang puntung rokok di kawasan tersebut.

Ia menyatakan tidak keberatan jika Perda Nomor 2 tahun 2017 tentang Malioboro jadi KTR ditegakkan. Meski disadarinya kesejahteraan para buruh pabrik rokok akan berkurang.
”Kalau mau diterapkan, ya.. ditegakkan saja peraturannya. Tapi harus disediakan ruang memadai dan representatif bagi mereka yang merokok,” katanya.

Pihaknya tidak  bisa menolak perda tapi hendaknya ada keseimbangan berbagi ruang bagi mereka yang merokok. Memang, Pemkot Yogyakarta menyediakan empat tempat khusus untuk merokok, masing-masing di Taman Parkikr Abu Bakar Ali, utara Malioboro Mall, dan di dekat Ramayana, serta di lantai III Pasar Beringharjo. Namun itu kurang ideal karena harusnya ada minimal delapan tempat merokok.

Anggota DPRD DIY, Yuni Satia Rahayu menyebut Malioboro sebagai ruang publik dan ikon Yogyakarta. Karena itu Malioboro harus jadi tempat yang aman dan nyaman. Pengelolaannya harus memberi ruang yang cukup bagi semua kepentingan dalam mendukung kepariwisataan dan budaya Yogyakarta.(bambang sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Linda Barbara

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Vestibulum imperdiet massa at dignissim gravida. Vivamus vestibulum odio eget eros accumsan, ut dignissim sapien gravida. Vivamus eu sem vitae dui.

Recent posts

Recent comments