Home Berita Umat Gunungkidul Sambut Positif Larangan Istilah Kafir

Umat Gunungkidul Sambut Positif Larangan Istilah Kafir

283
0
SHARE

WONOSARI, tiras.co – Sikap dan keputusan Pengurus Besar Nahdlatur Ulama (PBNU) hasil rapat pleno Munas Ulama melarang penyebutan istilah kafir bagi umat Non Muslim mendapat sambutan positif kalangan umat Katolik. Umat menilai rekomendasi tersebut membuktikan totalitas NU sebagai ormas yang relevan mengembangkan silaturahmi persaudaraan antarumat beragama.

Bidang Pelayanan Kemasyarakatan Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari, FX Endro Tri Guntoro menilai, sikap NU tersebut sangat membantu umat Katolik dan umat non-Islam untuk semakin mengetahui siapa saudara sejati dalam rasa hormat menghormati keberagaman budaya dan antarpemeluk agama di Indonesia.

“Nyata, NU ini ormas keagamaan yang bisa menjalin persaudaraan sejati di tengah hidup dalam kemajemukan,” kata Endro di sela-sela menghadiri koordinasi persiapan Hari Raya Paskah 2019 di Gunungkidul-DI Yogyakarta, kemarin.

Ia menilai sikap NU tersebut tepat dan dibutuhkan umat non-Muslim yang selama ini merasa tersudutkan dengan istilah “kafir” dan dirasakan kurang mengenakkan. Padahal umat beragama Kristen, Hindu, Budha, Kongkucu, Katolik, juga penghayat kepercayaan selama ini memiliki iman akan kepercayaan terhadap Tuhan. Juga, mereka memiliki Kitab Suci sebagai ajaran dan tuntutan hidup yang sama-sama bertujuan menciptakan kebaikan.

“Inilah kemudian umat non-Islam pun merasa turut memiliki NU sebagai ormas yang perannya harus terus diperkuat sebagai kekuatan keberagaman di Indonesia. Kami berharap pandangan moderat NU ini bisa mengakar sampai tingkat kader dan umat di desa-desa,” kata Endro penuh harap.

Dirinya yang hampir lima tahun sebagai pelaksana Tim Kerja Hubungan Antaragama dan Kepecayaan (HAK) Gereja Katolik di Gunungkidul menyampaikan, hubungan harmonis umat Nahdiyin dengan umat non-Muslim di daerahnya selama ini terjalin baik. Peran Banser sebagai representasi dari ormas NU sampai saat ini masih amat dirasakan kesetiaannya dalam menjaga keamanan di hari raya umat agama lain. egiatan tersebut murni kesadaran dan tanpa diminta umat agama lain. Ini patut diteladani sebagai konsistensi mewujudkan persaudaraan sejati lintas agama yang dilakukan tanpa banyak kata.

Endro berharapdalam waktu dekat ini perwakilan umat Katolik Gunungkidul melibatkan ormas Katolik seperti ISKA, WKRI, Pemuda Katolik bisa diterima beraudiensi dengan jajaran Pengurus PCNU Gunungkidul sebagai bentuk silaturahmi balasan.

Menurutnya, umat non-Muslim termasuk Katolik, selama ini dipertemukan dalam satu kegiatan bersama, yakni jejaring persaudaraan lintas agama di Gunungkidul. Komunitas bernama Forum Lintas Iman Gunungkidul yang berkiprah hampir 12 tahun sebagai rumah bersama. Di dalam FLI juga terdapat tokoh-tokoh muda Lesbumi NU. Tak hanya itu, Sekolah Kebhinekaan Gunungkidul yang masih eksis mengkader anak-anak muda dari lintas iman telah menghasilkan dua angkatan dalam dua tahun berjalan. Kegiatan ini komitmen dan rutin diselenggarakan lintas ormas keagamaan seperti Klasis GKJ, BKS Gunungkidul, GP Anshor NU, Fatayat NU, Pemuda Katolik, Majelis Budhayana Indonesia, PHDI, yang belakangan ikut bergabung Jamaah Ahmadiyah Islamiyah (JAI) dan LDII. Kegiatan terdukung beberapa pihak lain seperti UKDW Yogyakarta, LBH Yogyakarta, Komunitas Gusdurian, ANBTI Yogyakarta, Kantor Kemenag, dan Kesbangpol Gunungkidul.

Endro yang juga tenaga fasilitator Sekolah Kebhinnekan Gunungkidul mengakui, belum semua ormas keagamaan di Gunungkidul turut bergabung untuk tujuan membangun kerukunan dan persaudaaan lintas iman. Padahal setidaknya ini bisa melengkapi tugas FKUB dalam pekerjaan menciptakan suasana damai dalam memperkuat NKRI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here