Home Tekno Tim Mahasiswa UP 45 Menangi LITM 2017

Tim Mahasiswa UP 45 Menangi LITM 2017

616
0
SHARE
UP 45
JUARA: Tim mahasiswa Universitas Proklamas '45 sebagai juara. (*tiras.co/bambang sk)

JOGJA, tiras.co

– Tiga mahasiswa dari Prodi Teknik Perminyakan Universitas Proklamasi 45 (UP 45) Yogyakarta, Awalliyah Nadia Belyni, Yunahar Abdul Rahman, dan Yuhirman berhasil memenangkan Lomba Inovasi dan Teknologi Mahasiswa (LITM) 2017 yang diselenggarakan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY. Lomba berlangsung di Kampus II Fakultas Ekonomi Universitas Teknologi Yogyakarta, melibatkan peserta dari berbagai PT se-DIY.

Ketiga mahasiswa angkatan 2015 ini mengaku awalnya tidak ada yang mendorong atau mengarahkan mengikuti lomba. “Kami hanya berpikir koq main terus. Lalu sepakat untuk melakukan sesuatu yang barangkali lebih berharga dan berarti. Kebetulan ada lomba, lalu kami sepakat untuk ikut dan mulai berbagi ide,” kata Awalliyah di sela-sela kuliahnya, Sabtu (21/10/2017).

Dari diskusi kecil dan masukan dari dosen Wira Widyawidura ST, M.Eng, tim ini lantas memutuskan untuk lebih mengembangkan sumber-sumber energi alternatif. Tema “Pemanfaatan Sampah Organik di Lingkungan” dipilihnya. Sebab tim ini melihat sampah organik dapat menjadi sumber energi alternatif yang sangat murah. “Kalau ini bisa dikembangkan, maka bukan hanya akan menjadi solusi untuk kebutuhan energi, melainkan sekaligus menjadi solusi bagi persoalan lingkungan,” pikirnya.

Dari situ, tim kemudian aktif melakukan riset dan ujicoba di lingkungan kampus. Sampah organik pun dikumpulkan dan diolah sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar di tungku TAGS. Menurut Yuhirman secara struktur perangkat, kompos TAGS tidak jauh dari jenis kompor pada umumnya. Sedikit perbedaan bahwa energi panas yang dihasilkan dari kompor ini bukanlah dari pembakaran langsung bahan bakar organik yang telah diolah, melainkan dengan memanfaatkan gas yang timbul dari bahan bakar organik ini.

“Jadi selain lebih hemat karena memanfaatkan bahan-bahan terbarukan, juga pasti jauh lebih ramah lingkungan. Seberapa prosentasenya, masih perlu dihitung ulang. Tapi logikanya jauh lebih efisien dan tidak mencemari lingkungan,” tutur Yuhirman.

Perlu Penyempurnaan

Diakui Yuhirman, kendati sangat potensial dikembangkan, teknologi pengolahan bahan bakar organik dan pemanfaatan kompos TAGS ini masih perlu upaya penyempurnaan di sana-sini. Utamanya menyangkut sisi kepraktisan bagi pengguna.

Sebagaimana diketahui, masyarakat saat ini sudah terbiasa dengan penggunaan kompor gas yang tinggal putar tombol, maka api akan menyala sesuai kebutuhan. Apabila sudah dirasa cukup, maka kompor gas dengan mudah akan dimatikan. Sedangkan penggunaan kompor TAGS ini, untuk saat sekarang belum bisa dioperasikan dengan cara demikian. Cara menyulutnya masih harus menggunakan pemantik manual, seperti korek. Sementara untuk mematikannya juga lebih sulit menunggu gas dari bahan bakar organik ini habis dengan sendirinya.

“Kalau untuk rumah tangga, masih perlu banyak penyempurnaan. Tapi kalau untuk industri, sebenarnya sudah aplikatif. Nyatanya, kita mendapat pesanan puluhan kompor ini dari Institut Seni Indonesia (ISI) untuk keperluan lab membatik,” jelas Hirman.

Anggota tim lainnya, Yunahar mengungkapkan, kompor TAGS sendiri sejak awal hingga saat ini sudah mengalami beberapa kali perubahan. Utamanya perubahan dalam pemanfaatan material, desain dan ukuran. Demikian pula dengan bahan bakarnya, mengalami beberapa kali upgrade. Pernah dicoba pemanfaatan bahan baku berupa limbah serutan kayu yang diolah menjadi briket maupun pelet kayu. Mereka juga pernah mencoba memanfaatkan limbah uang kertas, dan terakhir menjajal pembuatan pelet dari jerami padi dan sekam.

“Semua kita coba untuk mendapatkan bahan yang semakin baik dan sempurna. Tentu dengan memperhatikan energi yang dihasilkan, kemudahan mendapatkan bahan baku, serta biaya yang harus dikeluarkan untuk mengolahnya,” terang Yunahar.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here