25teten
Teten Masduki. (Ist)

JOGJA, tiras.co – Apa arti data ini: 53,81% generasi milenial dan Z mendominasi 270 juta penduduk Indonesia? Sebagai generasi produktif, milenial berpotensi besar menjadi pendorong pertumbuhan perekonomian negara. Namun, data menunjukkan, tingkat partisipasi angkatan kerja milenial masih di angka 61,31%.
Data-data tersebut dibeberkan Teten Masduki, Menteri Ekonomi dan UKM RI, dalam Webinar Nasional “Peran Milenial dalam Membangkitkan Ekonomi UMKM” yang diselenggarakan BPR MSA dan Akumandiri DPW DIY, Kamis (23/9). Seminar diikuti 2.000-an peserta via aplikasi Zoom dan Youtube.
Teten melihat, motivasi milenial untuk menjadi pengusaha masih rendah. Mengutip survei IDN Media, Teten menyebutkan sebagian besar milenial masih ingin menjadi karyawan. “Baru 14% milenial yang bekerja sebagai wirausaha. Padahal lapangan kerja pada masa pandemi ini semakin sempit dengan adanya penutupan usaha dan PHK,” ungkap Teten.
Menurut Teten, jika milenial tergerak menjadi wirausaha maka pertumbuhan ekonomi akan terbantu. Selanjutnya, lapangan pekerjaan makin tersedia. Maka ia mendorong gerakan kebangkitan kewirausahaan. Saatnya milenial tidak mencari kerja melainkan menciptakan pekerjaan.
Kecilnya persentase milenial sebagai wirausaha, menurut Teten, memperlihatkan minimnya inovasi,, kreasi, serta keberanian milenial dalam mengambil risiko. Maka, pemerintah, melalui kementerian koperasi dan UKM, sejak 2019, telah turut mendukung gerakan kewirausahaan nasional dan mencanangkan program wirausaha pemula bagi milenial untuk meningkatkan rasio kewirausahaan nasional. Implementasi program ini berupa pelatihan, pendampingan, inkubasi bisnis, dan bantuan modal usaha.
“Khusus untuk program wirausaha pemula,” lanjut Teten, “Sampai tahun 2020 tercatat total penerima program adalah 23.761 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Tahun ini, target penerima bantuan adalah 1.365 orang. Saat ini sudah ada 119 wirausaha pemula yang telah menerima bantuan tersebut dengan total pembayaran sebesar Rp768 juta.”

Wirausaha
Dari jumlah yang tak terlalu banyak tersebut, Teten berharap milenial ambil bagian sebagai wirausaha. Ini mengingat angka wirausaha di Indonesia baru mencapai 3,8%. Masih sangat rendah dibandingkan negara-negara maju yang rata-rata sudah di angka 12%. “Singapura sudah di 8,5%, sedangkan Thailand dan Filipina sudah di atas 4,5%. Kita diprediksi menjadi negara maju di 2045. Oleh karena itu, kita harus semangat melahirkan wirausaha-wirausaha baru yang punya daya saing di dunia.
Menuju ke sana, imbuhnya, transformasi UMKM menjadi arah kebijakan dan strategi kementerian koperasi dan UMKM untuk menciptakan the future UMKM yang tangguh dan mandiri, dari informal ke formal, transformasi digital, pemanfaatan inovasi teknologi. “Bank Dunia sudah mengingatkan kita supaya Indonesia menyiapkan lapangan kerja yang berkualitas. Sebab, sejak krisis ekonomi 1998, kontribusi sektor formal terus menurun. Generasi milenial sebagai generasi digital dapat menjadi agen perubahan transformasi UMKM dari aspek pemasaran, akses teknologi, pembiayaan dan permodalan, serta produksi dan pemasaran.
bambang sk/*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here