SHARE
Setia
Setia Adi Purwata. (tiras.co/sdr)

JOGJA, tiras.co – Difabel istilah yang sudah familiar bagi kita. Tanya saja kepada sebagian besar orang, maka mereka akan langsung meunjuk pada kelompok masyarakat yang mempunyai kekurangan atau kelainan fisik dan mental. Namun, siapa sangka istilah yang tidak bakal kita temukan dalam kamus manapun ini ternyata lahir dari gaya plesetan Jogja.

Ceritanya, kata Setia Adi Purwata, Ketua Komite Disabilitas DIY saat menjadi salah satu pembicara dalam acara Lokakarya bersama Jurnalis dengan topik “Pemberitaan Isu Disabilitas”, Rabu (29/11/2017) lalu, berawal dari kegusaran akan istilah yang dirasakan sangat diskriminatif.

Penggunaan istilah penyandang cacat atau penyandang disabilitas, lanjut Setia yang juga mengalami cacat pada penglihatan (tuna netra), telah meminggirkan mereka yang dianggap memiliki kekurangan fisik dan mental tersebut di tengah masyarakat. Membuat mereka yang disebut cacat seolah tidak memiliki hak yang sama dengan orang-orang normal lainnya untuk bisa menikmati dan menjalani kehidupan secara layak dan diperlakukan sama/setara dengan anggota masyarakat lainnya.

Kegusaran ini kemudian melahirkan istilah “different ability” yang artinya “kemampuan yang berbeda”. “Tapi istilah ini masih dirasakan asing bagi kuping dan lidah kita. Akhirnya Pak Mansour Fakih (salah seorang akademisi dan aktivis sejumlah gerakan sosial) mengusulkan istilah difabel. Katanya, orang Jogja kan biasanya pintar memainkan plesetan. Ya udah kita bikin saja istilah difabel,” ujar Setia mengenang kejadian pada tahun 1995 tersebut.

Sejak saat itu, dibantu liputan pers yang juga selalu memakai kata difabel dalam pemberitaan, lanjut Setia, istilah ini mulai mendapat tempat di tengah masyarakat. “Semoga istilah ini bisa membuat kita lebih bijak melihat dan menerima kelompok masyarakat yang tadinya dianggap terminoritaskan menjadi kelompok masyarakat yang setara untuk memperoleh hak dan kewajibannya, sama seperti masyarakat lain pada umumnya. Coba, mana yang lebih sempurna, cacing tau burung? Keduanya sama-sama sempurna. Begitu juga manusia. Cuma memang kami mempunyai kemampuan yang berbeda.”

aloysius soni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here