Home Berita Tanggap Bencana dari Keluarga

Tanggap Bencana dari Keluarga

200
0
SHARE
Dosen UMY Dr Tri Nur Hastuti menyampaikan gagasan dalam sesi panel Pertemuan Ilmiah Muhammadiyah Kebencanaan. (tiras.co/ist)

JOGJA, tiras.co – Kemampuan tanggap bencana sering kali tidak diperhatikan karena selalu bergantung pada pemerintah maupun kelompok-kelompok pertolongan bencana.

Melihat banyaknya bencana yang terjadi di Indonesia dari tahun ke tahun seharusnya kemampuan tanggap bencana juga harus ditingkatkan tak hanya dari level professional Basarnas, BNPB, petugas medis namun juga untuk lapisan masyarakat, terlebih masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.

Melihat situasi demikian,Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah atau yang lebih dikenal Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) mengadakan Pertemuan Ilmiah Muhammadiyah Kebencanaan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Lilik Kurniawan di awal acara mengatakan bahwa kemampuan tanggap bencana bisa dimulai dari keluarga, ia biasanya menyebutnya dengan Keluarga Tanggap Bencana (Katana).

”Katana merupakan wujud ketika keluarga memutuskan untuk menempati wilayah yang rawan bencana, keluarga tersebut harus paham dan mengerti tentang medan atau kondisi yang ia tempati (pengetahuan). Dari situlah mereka sadar akan potensi apa saja yang bisa terjadi (sadar), kemudian keluarga tersebut akan menjadi keluarga yang berbudaya dan tanggap bencana,” papar Lilik.

Tangguh Bencana

Dosen UMY, Dr Tri Nur Hastuti memaparkan masyarakat tangguh bencana dari perspektif perempuan. Sebagai dosen aktif Ilmu Komunikasi UMY dan juga sekretaris PP Aisyiah, ia menekankan tentang problematika perempuan dan bencana.

Menurutnya perempuan 14 kali lebih rentan terhadap bencana dari sisi kerugian, dampak psikologis, dan traumatik.
Ia menilai rata-rata perempuan tidak langsung menyelamatkan dirinya tetapi menyelamatkan anaknya terlebih dahulu kemudian memastikan keadaan baik-baik saja.

Selain itu pengetahuan yang terbatas dalam penyelamatan diri dan absennya perempuan dalam training mitigasi bencana, juga menjadi faktor dari problematika perempuan dan bencana. ”Akan lebih baik jika perempuan dilibatkan dalam training tanggap bencana, tidak hanya lelaki,” tandasnya.(bambang sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here