Home Berita Sulitnya Mengubah Wajah Negeri (1)

Sulitnya Mengubah Wajah Negeri (1)

206
0
SHARE
Opini Isnaini Muhammad

DRAMA istana atau tepatnya drama Jokowi mungkin baru selesai sepersekian babak. Setelah 12 wakil Menteri ditetapkan. Sejak pertarungan kontestasi Pilpres 2019 berlanjut ke gugatan hasil pilpres di MK,berlanjut ke intrik menjelang pelantikan Jokowi – Kyai Ma’ruf Amin, berlanjut ke beauty contest pemilihan menteri sampai gongnya, suara-suara anomali tokoh-tokoh organ relawan yang merasa ditinggalkan hingga ”marah” karena keringatnya seolah-olah tidak dihargai.

Drama Jokowi sepersekian babak ini, mudah-mudahan tidak berlanjut setelah 12 wamen ditetapkan PresidenJokowi. Namun tampaknya bakal masih hangat karena belum apa-apa, Menteri BUMN yang baru sudah dilaporkan ke polisi menyangkut keikutsertaan salah satu cabang olahraga dalam Sea Games. Buya Syafii Maarif yang dengan celana tembelan kecil di masjid belakang kediamannya, selalu mengingatkan agar tidak boleh lelah untuk kebaikan. Buya yang saat itu ditemui empat orang ”anaknya” sepuluh hari sebelum pelantikan presiden-wakil presiden, sangat memahami situasi amat sulit bagi Jokowi. Dan Buya sudah memperkirakan bahwa situasi itu akan berlanjut hingga penyusunan kabinet.

”Tetapi kita tidak boleh berhenti. Saya tahu…susah…susah sekali Jokowi. Tapi…tapi nanti…nanti…Insya Allah ada jalan…nanti ada jalan, Insya Allah. Saya sebetulnya juga sangat lelah sekali. Tapi kata orang, saya tidak boleh lelah. Kita tidak boleh lelah untuk sesuatu yang baik, untuk bangsa ini,” ujar Buya usai sholat berjamaah di masjid dekat rumahnya.

Merasa Paling

Drama elite tidak memberikan signifikansi edukasi politik bermanfaat. Tapi lebih menggambarkan hegemoni ego dan kepentingan sesaat. Padahal, jauh di alam pikiran Jokowi ketika memegang kendali negeri, ia hanya ingin membawa bangsa ini memiliki martabat dan harga diri karena kesejahteraan di semua lini dirasakan seluruh lapisan rakyat. ”Semua merasa paling…! Paling berjuang, paling berkeringat. Lantas hanya menuntut posisi dan jabatan.

Kondisi yang sangat menyedihkan! Lebih tepat, mengenaskan bagi rakyat. Pertaruhan sangat besar bagi bangsa ini karena bahaya mengerikan terus merayap di sendi kehidupan paling bawah sementara di atas hanya rebutan jatah menteri. Saya tidak percaya bahwa orang-orang seperti ini yang kemudian jadi elite akan utuh melihat Pasal 33 UUD 1945. Kalau sudah begini, sesungguhnya rakyat itu survive karena dirinya sendiri. Tidak ada sama sekali campur tangan negara,” ungkap seorang Aktivis 98 yang merasa gerah melihat kondisi negeri ini.

Seringkali kita tidak sadar bahwa Merah Putih sewaktu-waktu bisa robek. Bukan hanya jadi dua tapi bisa jadi banyak kalau drama Jokowi terus berlanjut. Satu hal sederhana yang semestinya sudah tidak waktunya lagi jadi buih keributan tiada ujung. Soal bahwa salah satu menteri yang ditunjuk bukan asli satu daerah, ributnya seperti mau kiamat. Lantas menyebar menjadi info tidak berdasar melalui jaringan media sosial. Ucapan yang kemudian disebarkan karena kekesalan, kekecewaan dan luapan emosi, tidak disadari akan mendatangkan air bahreaksi yang amat destruktif. Bukan berhenti pada rusaknya materi, fisik atau sarana danprasarana publik semata. Tetapi merusak moral, mental dan karakter anak bangsa.(Opini Isnaini Muhammad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here