Home Berita Studi Bebas Plastik di 20-30 Kota di Indonesia

Studi Bebas Plastik di 20-30 Kota di Indonesia

58
0
SHARE
Salah satu kegiatan pengumpulan sampah daur ulang. (tiras/ ist)

JOGJA, tiras.co – Studi kelayakan bebas plastik akan dilakukan di 20 – 30 kota di Indonesia. Laporan perkembangan kegiatan tersebut juga mencakup berbagai program dan komitmen global.

Langkah ini dilakukan Alliance to End Plastic Waste (Alliance), sebuah organisasi nirlaba global yang berfokus menjawab tantangan untuk mengakhiri sampah plastik.

Presiden dan CEO Alliance to End Plastic Waste, Jacob Duer, menjelaskan beberapa kegiatan di Indonesia yaitu Program STOP (Stop Ocean Plastics) di Kabupaten Jembrana, Bali Barat, untuk perancangan dan pembangunan layanan pengolahan sampah padat pertama di Kabupaten Jembrana yang bermanfaat bagi 150.000 penduduk lokal. Tempat pengolahan sampah padat menyediakan sistem daur ulang penuh yang menciptakan lapangan pekerjaan baru dan permanen bagi penduduk lokal.

”Alliance to End Plastic Waste dan Program STOP membuat sistem yang bertujuan mengumpulkan 20.000 ton sampah per tahun. Langkah ini mendorong transformasi yang mendasar di setiap tingkatan masyarakat – warga, pemerintah, dan komunitas serta merupakan model yang efektif untuk kemitraan antara publik dengan pemerintah yang dapat diterapkan kembali di masyarakat di mana kebocoran sampah plastik di lingkungan sangatlah tinggi,” papar Jacob.

Cari Solusi

Ia menambahkan Program Plastic Waste-Free Cities (PWFC) merupakan program untuk mencari solusi bebas sampah plastik di kota-kota yang memiliki tantangan ekologi dan sosial ekonomi yang paling rentan. Di Indonesia, Alliance to End Plastic Waste telah memulai studi kelayakan di 20 – 30 kota di daerah semi perkotaan dan pedesaan yang bekerja sama dengan SYSTEMIQ. Tujuannya, menciptakan sistem pengumpulan dan pemilahan sampah lokal yang akan mengubah sampah plastik yang dikumpulkan dari lingkungan menjadi material untuk daur ulang lanjutan atau mekanikal.

”Kegiatan lain, studi kelayakan daur ulang lanjutan untuk dua program di Bandung dan Mojokerto, yang
dilakukan untuk mengetahui apakah kondisi di kota-kota tersebut mendukung investasi infrastruktur berskala besar yang dapat mengubah sampah plastik menjadi bahan baku petrokimia, dan akhirnya diolah menjadi bahan bakar atau bahan plastik berkualitas tinggi,” imbuh Jacob.

Studi tersebut juga mencakup penilaian berbagai teknologi untuk menangani sampah plastik yang sulit didaur ulang. Juga teknologi yang dapat berintegrasi dengan daur ulang mekanikal dalam sistem pengolahan sampah terintegrasi. Tujuannya meminimalkan volume sampah plastik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) atau dibakar, dan memaksimalkan nilai yang diperoleh dari bahan daur ulang.

Program lain, Ocean Plastic Prevention Accelerator (OPPA) merupakan jaringan kolaboratif untuk solusi inovatif sistem pengelolaan sampah lokal dan sektor daur ulang di Surabaya. Mereka menjalankan program Surabaya Waste Community Accelerator yang bekerja sama dengan delapan inovator lokal untuk mendukung dan meningkatkan pendekatan baru memajukan pengelolaan sampah plastik dan infrastruktur daur ulang.(yudhistira)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here