Home Berita STTN BATAN Tuan Rumah Penyelenggaraan Regional Training Course for Teacher

STTN BATAN Tuan Rumah Penyelenggaraan Regional Training Course for Teacher

550
0
SHARE
Jpeg

JOGJA, tiras.co – Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Regional Training Course for Teacher di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) BATAN Babarsari, Yogyakarta, 16 – 27 April 2018.

Kegiatan mengusung tema “Memperkenalkan Iptek Nuklir di Sekolah Melalui Pendekatan Inovatif” ini diikuti para guru dari 16 negara Asia Pasifik. Mereka berasal dari Malaysia, Filipina, Kamboja, Thailand, Laos, Oman, Nepal, Srilanka, Mongolia, Pakistan, Yordania, Tiongkok, Vietnam, Myanmar, Lebanon, dan Indonesia.

Ketua STTN BATAN, Edy Giri Rachman Putra dalam penjelasannya didampingi Jane Gerardo-Abaya dari IAEA, Jumat (27/4/2018) mengatakan, penyelenggaraan ini sebagai wujud kesiapan STTN BATAN menjadi mitra Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/ IAEA) sebagai collaborating center dalam pengembangan SDM dan edukasi nuklir di kawasan Asia Pasifik.

STTN-BATAN dan Pusdiklat BATAN disebutnya memiliki fasilitas, sumber daya yang berpengalaman dalam pengembangan SDM serta program pendidikan. Tujuan kegiatan ini untuk melatih para guru di bidang sains pada sekolah menengah di negara-negara anggota IAEA, dalam memperkuat pemahaman mereka tentang topik Iptek nuklir dan menyampaikannya kepada para siswa melalui proses pengajaran yang efektif dan menarik. “Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya IAEA dalam membantu negara-negara anggotanya dalam mengembangkan tenaga kerja masa depan di bidang nuklir,” katanya seraya menambahkan, pelatihan ini juga bertujuan membantu negara anggota IAEA dalam mengembangkan materi pendidikan dan pendekatan praktis untuk menyampaikan pengetahuan nuklir kepada generasi muda dengan metode yang populer dan efektif.

Secara teknis kegiatan ini diimplementasikan melalui pengembangan keterampilan dan pengetahuan para guru di bidang Iptek nuklir dan metode pengajaran interaktif. Outcome dari kegiatan ini adalah para guru yang lulus dari pelatihan dapat menjadi narasumber di tingkat nasional. Yang kemudian bertanggung jawab dalam mentransfer pengetahuan kepada guru lain melalui lokakarya nasional.

“Pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian STTN BATAN kepada masyarakat dalam mensosialisasikan Iptek nuklir,” sebutnya sembari berharap penyelenggaraan kegiatan ini nantinya berdampak secara nasional, regional, maupun internasional tentang STTN BATAN sebagai institusi pendidikan tinggi khusus tentang teknologi nuklir.

Kegiatan ini pertama kali diinisiasi pada 2014 dan Indonesia menjadi salah satu negara percontohan yang berhasil menerapkan program ini. Sebagai negara percontohan, beberapa prestasi yang dicapai Indonesia, pertama komitmen SMA Negeri 1 Tangerang Selatan untuk menyusun kurikulum khusus Iptek nuklir yang dimasukkan sebagai materi pengayaan (enrichment) untuk siswa pada kelas cerdas istimewa.

Kedua, komitmen SMA Negeri 2 Tangerang Selatan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan Rencana Pokok Pembelajaran (RPP) materi Iptek nuklir di sekolah. Dengan mempertimbangkan kearifan lokal, khususnya untuk meningkatkan kesadaran siswa terkait radiasi lingkungan, proteksi radiasi dan aplikasi radiasi.

Ketiga, penerbitan 2 buah buku komersial oleh Guru SMA Negeri Surabaya berjudul “Nuklir: Sahabat atau Musuh?” dan “Aku Pintar Nuklir” yang berisi materi pembelajaran Iptek nuklir yang diserap dari materi Compendium serta Teachers Exchange Programme yang didanai IAEA.

Keempat, pengenalan Compendium oleh BATAN ke beberapa wilayah di Indonesia melalui aktivitas Edukasi Iptek Nuklir yang diperkirakan melibatkan lebih dari 250 guru dan 2.000 siswa. Kelima, terpilihnya satu orang Guru SMAN 2 Tangerang Selatan sebagai Expert IAEA dalam Regional Teachers Training di Filipina.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here