Home Berita St. Sunardi: Identitas Pribadi dan Kelompok Banyak Berkembang Lewat Budaya

St. Sunardi: Identitas Pribadi dan Kelompok Banyak Berkembang Lewat Budaya

597
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Pengajar dari Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta Dr St. Sunardi menilai pentingnya menggarap aspek kewargaan budaya, tanpa mengabaikan kewargaan politik. Ini karena politik sekarang lebih cenderung mengeksploitasi sedemikian rupa, hingga kadang menciptakan kebencian.

“Untuk keadaan zaman sekarang ini apa tidak lebih mendesak, kita menggarap aspek kewargaan budaya budaya, tapa mengabaikan kewargaan politik,” ajak Sunardi dalam diskusi kebangsaan yang digelar Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) di Pendopo Cangkir Bintaran, Yogyakarta, Senin (23/7/2018). Diskusi mengusung tema “Pancasila Sebagai Etika Berpolitik” dimoderatori Purwadmadi, menamplkan pula pembicara Kepala Departemen Ilmu Komunikasi Fisipol UGM Dr Kuskridho Ambardi MA dan anggota DPR RI Idham Samawi.

Lebih lanjut, Sunardi menyampaikan, menjadi bangsa bisa diartikan mempunyai identitas sebagai bangsa. Tantangan jaman sekarang adalah identitas pribadi maupaun kelompok itu banyak berkembang lewat budaya daripada politik dan ideologi.”Inilah yang membuat orang kini bicara tentang kewargaan budaya. Maksudnya, orang mengamati bahwa identitas seseorang atau keanggotaan seseorang dalam suatu kelompok sangat erat dengan pengalaman budaya tertentu,” katanya.

Ketua Program Ilmu Religi dan Budaya USD ini mengingatkan bahwa dimasa lalu Pancasila pernah menjadi alat kekuasaan. Dipakai untuk melegitimasi kekuasaan, untuk menyingkirkan musuh-musuh penguasa, untuk membungkam pandangan-pandangan kritis yang membuat penguasa terusik dengan perilakunya yang sebenarnya tidak Pancasilais. Dalam keadaan ini, penguasa hanya menjadi penafsir tunggal atas Pancasila. “Penghidupan kembali Pancasila pada jaman sekarang kalau tidak hati-hati hanya memberi angin pada ancient regime. Wacana tentang Pancasila hanya menjadi wacana propaganda. Kalau hal ini terjadi maka akan terjadi kemunduran,” sebutnya.

Menurutnya, fenomena yang sangat mengkhawatirkan sekarang ini adalah politik yang dilandasi dengan ideologi yang pada dasarnya justru sebenarnya membajak demokrasi itu sendiri. Dalam bahasa yang lebih “mild”, Sunardi menyebut kondisi ini sebenarnya menghancurkan toleransi atau semangat untuk saling mengadakan dalam artian koeksistensi aktif. “Nilai inilah yang kita butuhkan jaman kita sekarang kalau kita bicara tentang persatuan Indonesia.”

Ia sebutkan wacana toleransi sekarang ini menjadi wacana yang hanya mudah diucapkan, namun mahal dipraktikkan. “Saya kadang bertanya-tanya, jangan-jangan politiki kita sekarang ini bersumber pada politik kebencian, politik balas dendam, dan semacamnya karena miskinnya imajinasi perpolitikan kita? Kalau ini benar, politik kita benar-benar bisa mengancam persatuan,” jelasnya.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here