Home Tekno Sosiolog UAJY: Pancasila Perlu Disuarakan Lagi

Sosiolog UAJY: Pancasila Perlu Disuarakan Lagi

585
0
SHARE
Kebangsaan
Kebangsaan

KETERANGAN FOTO: Suasana diskusi Kebangsaan. (bambang sk/tiras.co)

JOGJA, tiras.co – Sosiolog dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Bambang Kusumo Prihandono MA menilai tepat saat ini meradikalkan kembali modal sosio-kultural anak bangsa, yaitu Pancasila. Pancasila sebagai nilai pemersatu dan perlawanan perlu disuarakan lagi.

“Semua anak bangsa perlu membaca kembali Pancasila dan makna kesatuan sila-silanya, seperti diinterpretasikan oleh Filosof Driyarkara,” katanya dalam Diskusi Kebangsaan Dalam Masyarakat Multikultural di Auditorium Kampus 3 UAJY Gedung Thomas Aquinas, Yogyakarta, Selasa (22/8/2017).

Tampil pula berbicara dalam acara yang diselenggarakan Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Jogjakarta itu adalah dosen Fisipol UMY Dr Zuly Qodir MSi, anggota DPR RI Drs HM Idham Samawi, dan Rektor UAJY Gregorius Sri Nurhartanto SH, LLM.

Pancasila, lanjut Bambang, merupakan abstraksi nilai fundamental baru menjadi manusia Indonesia dan juga menjadi bangsa. “Dari manusia terjajah, menjadi manusia merdeka. Dari bangsa terjajah, menjadi bangsa merdeka,” sebutnya.

Dengan demikian, katanya, Pancasila adalah pergulatan manusia Indonesia untuk ‘meng-ada,’ eksistensi sebagai sang manusia merdeka.

Sedang dalam aspek sosiologis, Pancasila menawarkan nilai sosial untuk ‘meng-ada’ sebagai bangsa baru yang merdeka di hadapan bangsa-bangsa lain. Bangsa merdeka yang setara dengan bangsa lain. Inilah hakikat ‘menjadi bangsa Indonesia’, yakni berpribadi sebagai manusia Pancasila, dan menjadi bangsa Pancasilais. “Sungguh sulitlah untuk memisahkan kesadaran ‘menjadi bangsa’ dari Pancasila,” ujarnya.

Menurutnya, urgensi radikalisasi nilai-nilai Pancasila menjadi semakin relevan dalam konteks global. Pancasila bukan sebagai dogma ideologi beku, namun justru menjadi kekuatan jiwa proses de-kolonisasi. Intoleransi, kemiskinan nalar-budi, dan keminderan budaya adalah mentalitas kolonialisme yang musti digerus untuk digantikan dengan yang baru.

Masalahnya, kata Bambang, sekarang bagaimanakah membaca Pancasila? Pada titik inilah perlu memahami bahwa Pancasila merupakan produk pengetahuan hibrid, yang muncul sebagai jalan tengah dari kolonisasi Barat dan pengetahuan pribumi, yang nilai-nilainya mencoba melampaui yang Barat dan Non-Barat.

“Inilah kiranya nilai-nilai kebaruan dari Pancasila, menyodorkan gagasan dan pengetahuan untuk keluar dari jebakan mentalitas kolonial, sekaligus ketertutupan budaya asli. Inilah yang oleh Hobsbawm disebut sebagai invensi tradisi, yang senantiasa memperbaruai, meneguhkan dan mengembangkan tradisi,” katanya. (bambang sk/tiras.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here