Home Berita RUU Penanganan Terorisme Belum Ada Kemajuan

RUU Penanganan Terorisme Belum Ada Kemajuan

35
0
SHARE
7jHendardi-FOTO
Hendardi/tiras.co/ist

JAKARTA, tiras.co – Ketua Badan Pengurus SETARA Institute Hendardi menilai pembahasan Rancangan Peraturan Presiden tentang Pelibatan TNI dalam Penanganan Aksi Terorisme di forum konsultasi DPR dan pemerintah belum menunjukkan kemajuan signifikan untuk memastikan integritas criminal justice system dan penanganan tindak pidana terorisme secara adil dan akuntabel.
“DPR dan pemerintah masih belum mampu membuat batasan yang jelas tentang definisi terorisme, level terorisme yang membutuhkan pelibatan TNI, batasan keterlibatan TNI, sehingga berpotensi menjadikan TNI sebagai penegak hukum, yang justru bertentangan dengan sistem hukum pidana Indonesia,”kata Hendardi dalam siaran pers yang diterima redaksi tiras.co, Rabu (7/10/2020).
Ia beranggapan isu tentang lemahnya mekanisme pengawasan dan akuntabilitas TNI, adanya sumber anggaran daerah, serta potensi benturan dengan aparat penegak hukum akibat kerancuan substansi, belum mendapatkan perhatian serius DPR.

Forum Konsultasi
Menurut Hendardi, tugas DPR, khususnya Komisi I DPR yang merupakan mitra TNI, adalah memastikan UU 34/2004 tentang TNI dijalankan secara konsisten untuk menopang profesionalisme TNI.
Melalui forum konsultasi pembentukan Rancangan Peraturan Presiden (R-Perpres) ini, Komisi I DPR justru mensponsori penyimpangan UU TNI, khususnya terkait dengan ketentuan operasi militer selain perang (OMSP).
Komisi I mendorong keterlibatan TNI dalam penanganan terorisme dalam kerangka criminal justice system, yang justru merupakan pengingkaran terhadap integritas sistem hukum nasional.
TNI bukanlah penegak hukum. Karena itu pelibatannya dalam penanganan terorisme hanya terbatas pada jenis dan level terorisme yang spesifik.
Oleh karena itu, menurut Hendardi, konsultasi DPR dan pemerintah harus dilakukan terbuka dan kembali menghimpun masukan publik secara serius. Komisi I DPR harus berhati-hati membahas R-Perpres karena berpotensi merusak sistem hukum Indonesia. “Jika diperlukan DPR RI dapat mengembalikan R-Perpres tersebut kepada pemerintah untuk dapat diperbaiki kembali sebelum dibahas lebih lanjut,” kata dia.
bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here