Home Berita Putut Ajak Mahasiswa Merawat Indonesia

Putut Ajak Mahasiswa Merawat Indonesia

175
0
SHARE
Alumnus Lemhannas RI PPSA XXI, AM Putut Prabantoro ketika menggembleng mahasiswa Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Medan. (tiras.co/istimewa)

MEDAN, tiras.co – Merawat Indonesia yang beragam budaya, agama, suku, ras, kelompok dan bahasa ibarat memasak dan meramu makanan dengan berbagai bumbu di dapur sebuah hotel besar.

Keetidak tahuan akan kegunaan dan fungsi bumbu yang beranekaragam menjadikan sebuah masakan mahal menjadi tak berharga karena tidak ada yang mau menyantapnya.

”Kekeliruan memberikan bumbu yang sesuai dengan takaran juga menjadikan sebuah makanan favorit menjadi tanpa harmoni rasa,” ujar alumnus Lemhannas RI PPSA XXI, AM Putut Prabantoro mengandaikan Indonesia yang beragam.

Ia mengatakan itu dalam pembekalannya kepada 200 mahasiswa Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Medan. Tema pembekalan kampus dan masa depan Indonesia berjudul ”The Spirit Of Indonesia” dengan menitikberatkan pada apa yang bisa dipelajari dari industri perhotelan.

Menurut Putut, industri perhotelan mengajarkan para mahasiswa menjadi pemimpin masa depan Indonesia, untuk menghargai perbedaan, keberagaman dan persatuan.

Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) itu, menandaskan mahasiswa harus belajar dari seorang chef, barista dan juga tata graha (houskeeping).

Sebuah masakan yang enak disantap ibaratnya budaya, menghargai berbagai perbedaan yang berasal dari masing-masing bahan dasar dan juga bumbunya menjadi satu kesatuan.

Justru karena berbagai perbedaan yang menjadi satu itulah, masakan menjadi cita rasa karena kepandaian masing-masing pemasak atau chef, bahan yang sama dapat menjadi berbagai jenis masakan yang diminati.

Percaya Leluhur

Para calon pemimpin Indonesia di masa datang diminta melihat dan memahami. Betapa kekayaan berupa budaya, suku, agama, bahasa dan juga kekayaan alam merupakan bahan material ”masakan” yang diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia.

”Namun jika kekayaan yang begitu banyaknya tersebut tidak dikelola dengan baik, tidak dipahami dengan bijaksana, akhirnya menjadi barang yang mubazir dan tidak berguna,” tandas Putut.

Ia mengatakan mahasiswa harus percaya terhadap resep masakan para master chef dulu, yakni para leluhur, para bapak bangsa ataupun pendiri negara.

Resep masakan dan makanan tradisional itu dibuat karena seluruh bahan material dan bumbunya ada di Indonesia dan tidak ada dari negara asing.

Bahkan karena kekayaan bumbu yang ada di Indonesia, bangsa asing menjajah Indonesia. Ia menambahkan seperti halnya kopi yang dapat diurai lebih dalam, di Indonesia terdapat berbagai suku.

Semua suku memiliki kekhasan, keunikan dan kehebatannya. Suku-suku ini menjadi berharga dan bernilai ketika hidup berdampingan menjadi satu karena di situlah substansinya.

”Semua suku dalam ikatan NKRI sama berharganya dan di tangan ”barista” masa depan, semua suku di Indonesia akan semakin menjadi kekuatan yang tiada tandingnya. Dan Indonesia membutuhkan banyak barista kebangsaan agar kekayaan keberagaman menjadi kekuatan yang tak terpecahkan,” tegas Putut.(bambang sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here