Home Berita Prof Sudjarwadi: Zaman Superperson Sudah Berakhir

Prof Sudjarwadi: Zaman Superperson Sudah Berakhir

791
0
SHARE
Sudjarwadi
Prof Sudjarwadi diapit Arie Sujito dan Idham Samawi. (tiras.co/bambang sk)

JOGJA, tiras.co – Ahli-ahli ilmu tidak mungkin sukses bekerja sendirian, namun harus bekerja sama dalam teamwork untuk menyelesaikan persoalan yang sedang menjadi tantanganan-tantangan khusus untuk diberi solusi (point of interest to be solved).

”Zaman superman, superwoman, superperson sudah berakhir dan harus diusahakan percepatan peningkatan penciptaan superteam,” kata Gurubesar Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Prof Dr Sudjarwadi dalam Diskusi Kebangsaan X di Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali), Senin (27/11/2017).

Diskusi mengusung tema Kebangsaan Dalam Kepahlawanan Milenial, diselenggarakan Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta. Tampil pula berbicara anggota DPR/MPR RI Drs HM. Idham Samawi dan Sosiolog UGM Dr Arie Sujito.

Generasi millennial, lanjut Sudjarwadi, tidak boleh lupa dengan sejarah perkembangan ilmu yang telah terjadi sampai saat ini hingga ke depannya. Menurutnya, perkembangan ilmu sejak ilmu yang bersifat monodisiplin meningkat menjadi monodisiplin modern dan berproses lanjut dalam konteks kemajuan teknologi membentuk pengetahuan multidisiplin, interdisiplin, dan transdisiplin. “Fakta menunjukkan, solusi terbaik atas persoalan kehidupan zaman ini adalah pendekatan interdisiplin dan transdisiplin,” sebutnya.

Mantan Rektor UGM ini berpendapat, pahlawan bangsa di zaman millennial yang berilmu komprehensif dapat bekerja dalam suatu teamwork dengan maksimal dan memberikan hidupnya bagi kepentingan bangsa melalui aktualisasi kemampuan puncaknya yang sedang ditunggu bangsa Indonesia. Yakni yang mampu secara massal meningkatkan nilai-nilai ekonomi segenap sumber daya, mencakup fisik dan insani dalam koridor cita-cita pembukaan UUD 1945 dengan jiwa atau ruh Pancasila. Pahlawan itu, disebutkan, di antaranya mempunyai pemikiran dan tindakan yang sukses dalam menghalangi berkembangnya pengaruh-pengaruh negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, sekaligus sukses menyuburkan pertumbunan manfaat positif dari perkembangan Iptek.

Ia berkesimpulan, kebangsaan dalam kepahlawanan millennial adalah rasa kebangsaan yang tidak sekadar diomongkan, namun tercermin dari bentuk-bentuk tindakan nyata sehari-hari yang rela berkorban dengan bekerja keras dan cerdas. Selain itu, tahu potensi bangsa, tantangan dan cara solusinya untuk mencapai cita-cita bangsa yang telah terpatri dalam jiwanya. (rela berkorban demi kepentingan bangsa, berpikir dan bertindak sesuai tantangan zaman).

Sebelumnya Idham meyakini nantinya bangsa Indonesia akan mewarnai peradaban dunia, karena bangsa ini memiliki nilai-nilai nasionalisme atau paham kebangsaan. Untuk itu, para pemimpin bangsa ini harus memiliki atau punya dasar cinta bangsa dan tanah air. “Kalau tidak, akan digadaikan negeri ini,” ucapnya.

Dalam diskusi tersebut Arie Sujito mengusulkan dialog lintas generasi menjadi cara untuk ditempuh bangsa ini. Melalui cara, generasi tua tidak mengklaim sebagai pemilik sejarah NKRI, sedangkan generasi muda tidak merasa kehilangan konteks keIndonesiaan masa lalu.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here