Home Tekno Prof Muhadjir: Plagiarisme Telah Jadi Budaya di Kampus

Prof Muhadjir: Plagiarisme Telah Jadi Budaya di Kampus

694
0
SHARE
Muhajir
Prof Muhadjir Darwin. (bam/tiras.co)

JOGJA, tiras.co – Guru Besar Fisipol UGM Yogyakarta Prof Dr Muhadjir Darwin, MPA menduga plagiarisme telah menjadi budaya di kampus perguruan tinggi, karena itu masalah penjiplakan atau pengambilan karangan dari orang lain disebutnya sebagai masalah nasional yang serius di dunia pendidikan.

“Sepertinya, plagiarisme telah menjadi budaya, salah satunya di lingkungan kita, UGM,” ungkap Muhadjir dalam orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-34 Sekolah Pascasarjana UGM di kampus setempat, Kamis (7/9/2017).

Plagiarisme adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat dan data dari orang lain, dan menjadikannya seolah karangan, pendapat dan datanya sendiri.

Menurutnya, plagiasi dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. “Menyontek satu pendapat saja dalam satu atau dua baris tulisan, atau mengutip satu data saja, misalnya satu tabel, yang diambil dari satu sumber tertentu tanpa menyebutkan dari mana pendapat atau data tersebut dikutip, itu sudah termasuk dalam pengertian plagiarisme,” tunjuknya.

Termasuk dalam pengertian plagiarism, sebut Muhadjir, adalah mengutip isi dari tulisannya sendiri yang telah dipublikasi sebelumnya, tanpa menyebut sumbernya. “Ini yang disebut sebagai self-plagiarism atau auto-plagiarism. Self-plagiarism adalah plagiarisme,” jelasnya.

Pelanggaran Serius

Plagiarisme disebutnya sebagai pelanggaran etika penulisan karya ilmiah yang serius, yang pelakunya layak menerima sanksi akademis yang berat, seperti dikeluarkan dari pendidikan atau pekerjaan. Nilai kelulusan yang sudah diberikan bisa dicabut atau dikurangi, dan ijazah yang sudah dikeluarkan bisa dicabut atau dibatalkan.

Dalam orasi ilmiahnya tentang “Etika Dalam Pendidikan dan Pembangunan yang Berkelanjutan”, sebelumnya Muhadjir menyebutkan tiga istilah Jawa yang perlu dielaborasi, yaitu pinter, keminter dan keblinger.

Menjadi pintar, cerdas atau pandai merupakan tujuan dari orang bersekolah atau kuliah. Pinter berkenaan dengan kecerdasan, ketajaman logika dan luasnya ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki seeorang. Sedangkan keminter menyangkut sikap dari orang pinter terhadap kepintarannya sendiri dan dalam berhubungan dengan lingkungannya.

“Orang pinter dikatakan keminter jika dirinya cenderung bersikap sombong dengan kepandaiannya, dengan menganggap paling pandai dan orang lain bodoh.”

Terhadap orang lain, sebut Muhadjir, dia cenderung “minteri”, meremehkan atau mungkin bahkan nyilakani (membuat celaka), tidak ngajeni (menghormati) dan tidak melakukan hal yang murakabi atau memberi manfaat bagi sesama. Karena itu, jika karena pinter orang lalu keminter dan minteri dan tidak ngajeni serta murakabi, maka di situ terdapat masalah etika.

Terdapat nilai-nilai sosial penting dalam kehidupan bermasyarakat yang diabaikan. Nilai-nilai yang diabaikan adalah andap asor atau rendah hati. “Ini sejalan dengan peribahasa Indonesia yang berbunyi seperti padi semakin berisi semakin merunduk,” tuturnya.

Menurutnya, nilai-nilai lain yang terkadang diabaikan adalah nilai murakabi atau bermanfaat. Karena itu, gelar sarjana yang diraih seseorang haruslah murakabi (bermanfaat) bukan sebaliknya nyilakani liyan (merugikan orang lain).

Untuk itu, jika SPs UGM ingin menegakkan etika dalam sistem pendidikannya, maka hendaknya SPs bukan sekadar mencetak sarjana pandai. Namun sarjana yang mustinya berjiwa sosial, sensitif atau peduli pada masalah-masalah yang dihadapi orang lain atau masyarakat.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here