Home Berita Perpustakaan Berperan Strategis di Perguruan Tinggi

Perpustakaan Berperan Strategis di Perguruan Tinggi

554
0
SHARE
Luki Wijayanti diapit para penguji

JOGJA, tiras.co – Perpustakaan saat ini berperan strategis di perguruan tinggi. Karena itu, pustakawan perlu menyadari posisinya sebagai pengelola sumberdaya informasi di universitas, yang bukan sekadar koleksi perpustakaan, namun merupakan produk budaya yang diciptakan dengan segala kepentingannya.

Demikian disampaikan Dosen di Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Indonesia (UI) Luki Wijayanti dalam promosi doktor Program Studi Kajian Budaya dan Media di Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, Kamis (1/3/2018).

Dalam disertasinya berjudul ‘Perpustakaan Sebagai Arena Kontestasi Kepentingan: Studi Kasus Pengelolaan American Corner d Universtias Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta’ disebutkan, kepedulian pustakawan sebagai agen yang mendistribusikan informasi untuk kepentingan penggunanya harus ditunjukkan dengan sikap kritisnya terhadap pengelolaan perpustakaan. Manajeman perpustakaan yang selama ini fokus pada proses pengadaan, pengolahan dan pelayanan sumberdaya informasi, harus diperkaya dengan berbagai pemahaman mengenai masalah-masalah sosial, politik dan budaya dalam tata kelola perpustakaan.

Kepala Perpustakaan Fakultas Sastra dan Perpustakaan Pusat UI ini mengatakan, mengelola perpustakaan bukan sekadar mengelola bahan perpustakaan dan fasilitasnya untuk dilayankan kepada penggunanya. Namun juga mengelola penggunanya, yakni sivitas akademika universitas, yang merupakan generasi muda penerus bangsa. “Pustakawan universitas perlu menyadari bahwa mereka merupakan mitra dosen dalam mengembangkan kemampuan akademi dan kemampuan personal mahasiswa,” ujarnya.

Karena itu, lanjutnya, sikap kritisi pustakawan perlu terus dikembangkan dengan mempelajari berbagai ilmu yang relevan untuk kajian bidang perpustakaan dan informasi maupun dalam hal praktik tata kelola perpustakaan.

Berbicara tentang peran pustakawan di Indonesia, disebutkan jarang sekali ditemukan teori atau konsep yang secara langsung mengaitkannya dengan politik. Menurutnya, pustakawan Indonesaia terkesan terlalu hati-hati menempatkan dirinya dalam konteks kehidupan bernegara, tapi juga tidak berani memposisikan dirinya di dalam ranah politik. “Keberadaan corner-corner di perguruan tinggi misalnya, menandakan bahwa pustakawan hanya dapat menjalankan kebijakan universitas, sekalipun dalam proses penentuan kebijakan tersebut pustakawan tidak dilibatkan,” katanya.

Dari pengamatan promovenda, American Corner (Amcor) yang dikelola non pustakawan terlihat lebih aktif. Karena mereka berani melibatkan mahasiswa sebagai volunteers. Sehingga rugas rutin pustakawan tidak terganggu. “Bagi pustakawan, rutinitas ini memang sering menjadi prioritas, sehingga terkesan kurang kreatif,” sebutnya.

Promovenda mengakui banyak pustakawan yang tidak tertarik merancang kegiatan-kegiatan di luar rutinitas karena menganggap kegiatan rutin seperti pengadaan,pengolahan dan pelayanan sirkulasi lebih penting. “Padahal library is not about books and circulation services, library is the center of activities. Artinya, pustakawan perlu menyadari bahwa di belakang semua koleksi dan semua program itu ada misi tertentu.”

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here