Home Berita Perketat Protokol Kesehatan di Angkutan Umum

Perketat Protokol Kesehatan di Angkutan Umum

33
0
SHARE
Pantauan penumpang di masa pandemi Covid-19. (tiras.co/ist)

JAKARTA, tiras.co – Naiknya penumpang atau pengguna transportasi umum harus diimbangi dengan diperketatnya pelaksanaan protokol kesehatan. Ini karena terjaminnya pelaksanaan protokol kesehatan akan mendorong pulihnya kegiatan ekonomi.

”Karena itu kami akan melanjutkan kegiatan pemantauan di lapangan untuk daerah di Wilayah Pertahanan II,” kata Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) II Marsdya TNI Imran Baidirus di Jakarta.

Itu disampaikan sekembali memantau pelaksanaan protokol kesehatan selama tiga hari di Stasiun Gubeng Surabaya, Stasiun Madiun, Stasiun Yogyakarta dan Yogyakarta International Airport (YIA) belum lama ini. Pemantauan secara incognito dilakukan Imran Baidirus bersama Staf Ahli Menhub Cris Kuntadi dan Konsultan Komunikasi Publik AM Putut Prabantoro.

Imran mengapresiasi Kadaop PT KAI yang telah melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat bagi para penggunanya. Para pengusaha transportasi umum terutama darat dan laut diharapkan dapat melaksanakan protokol kesehatan yang ketat juga sebagaimana dilakukan PT KAI.

Menurutnya harus ada kerjasama yang kuat dan penuh kesadaran antara pemilik dan sopir agar mematuhi protokol kesehatan. Bus antarkota misalnya, tetap harus menjamin bahwa calon penumpang yang naik di tengah jalan juga telah melaksanakan protokol kesehatan. ”Tentu, sekali lagi ini harus ada kerja sama antara pemilik bus dan sopir,” tandas dia.

Perlu Antisipasi

Sekalipun jumlah penumpang kereta api belum kembali ke angka sebelum pandemi, naiknya jumlah penumpang tiap bulan perlu diantisipasi pengawasannya. Tentu ini memerlukan kerja keras bagi penyelenggara atau pemilik transportasi serta kesadaran para penumpang.

”Yang perlu dipahami, pulihnya kehidupan ekonomi hanya dapat terjadi jika protokol kesehatan terjamin pelaksanaannya,” tandas Imran.

Dalam paparannya di Stasiun Gubeng, Surabaya, Kadaop Wilayah 8 PT KAI, EVP Fredi Firmansyah menjelaskan, jumlah penumpang meningkat sejak jatuh ke titik terendah pada bulan Mei 2020 (66.523 orang). Penurunan drastis penumpang kereta api pada tahun 2020 terjadi pada April (119.112 orang), jika dibandingkan pada Januari (1.039.358 orang), Februari (958.854 orang) dan Maret (718.987 orang). Setelah jatuh ketitik terendah pada Mei, kenaikan jumlah penumpang dimulai bulan Juni (120.598 orang), Juli (192.057 orang) dan per 23 Agustus (170.667 orang).

Di Madiun, Kadaop Wilayah 7 PT KAI, Joko Widagdo menjelaskan pada tahun 2020 titik terenda jatuh pada bulan Mei (16.503 orang), yang diawali pada April (38.785 orang). Sementara kenaikan penumpang dimulai pada Juni (30.916 orang), Juli (53.995 orang) dan per 26 Agustus (85.068 orang). Meskipun demikian, Joko Widagdo, kenaikan penumpang pada Juli dan Agustus belum mencapai jumlah maksimal seperti sebelum pandemi yakni Januari (366.829 orang), Februari (327.208 orang) dan Maret (247.998 orang).

Tren sama juga diungkapkan oleh Kadaop Wilayah 6, Asdo Artriwiyanto dalam pertemuannya dengan Imran Baidirus di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Dikatakan Asdo, jumlah penumpang jatuh ke titik terendah jatuh pada Mei (27.064 orang) dan April (57.324 orang). Jumlah penumpang ini bisa dibandingkan bulan Januari (947.288 orang), Februari (809.425 orang) dan April (529.503). Trend kenaikan dimulai pada Juni (63.163 orang), Juli (119.620 orang) dan Agustus (158.123 orang).

Imran mengatakan masih membutuhkan kerja keras untuk terwujudnya jaminan dilaksanakannya protokol kesehatannya. Sementara di Yogyakarta International Airport sebagaimana bandara yang lainnya, para penumpang lebih sadar protokol kesehatan.(bambang sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here