Home Berita Peringatan Berdirinya FCJ

Peringatan Berdirinya FCJ

476
0
SHARE
Kepsen: Umat usai mengikuti misa melihat dan mengambil tanaman yang disediakan para suster.(Foto:tiras.co/bambang sk)

JOGJA, tiras.co – Perayaan menyambut berdirinya Kongregasi Faithful Companions of Jesus (FCJ) ke-200 tahun (bicentenary celebration) diperingati di Pusat Spiritualitas FCJ Sarasvita Yogyakarta. Perayaan tersebut dibuka dengan perayaan ekaristi yang dipimpin Romo Rektor Kolese Ignasius Kotabaru, Andreas Sugijopranoto SJ Sabtu (21/9/2019) lalu.

Sr Inez FCJ menjelaskan perayaan berdirinya kongregasi akan berlangsung selama satu tahun. Beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan sebagai ungkapan syukur adalah penanaman pohon di beberapa sekolah dan kelompok, kegiatan sosial, serta pendalaman spiritualitas bagi suster-suster FCJ maupun awam.

”Kami bersyukur atas kehadiran Kongregasi FCJ di berbagai penjuru dunia, dan secara khusus di Indonesia. Bersama dan di dalam gereja, para suster FCJ sepenuh jiwa, hati, budi dan kekuatan berupaya tetap relevan dalam menanggapi kehausan Yesus yang makin beragam,” ujar Sr Inez.

Kongregasi FCJ pada 30 Maret 1820 lahir dari hati Marie Madeleine dHouet, di Kota Amiens, Perancis. Perlu waktu lama baginya untuk sampai pada keputusan mendirikan Kongregasi FCJ. Jalan hidupnya berliku-liku. Marie Madeleine lahir dari keluarga bangsawan dan tumbuh pada era revolusi Perancis.

Dituntun Tuhan

Status kebangsawanan menempatkannya ke dalam situasi sulit dan berbahaya. Ia menikah pada usia 23 tahun. Lalu ketika perkawinan Marie Madeleine dHouet belum genap satu tahun, sementara ia sedang hamil delapan bulan, suaminya meninggal.

Dalam situasi sesulit itulah Tuhan mulai bekerja dalam dirinya secara istimewa. Sembari membesarkan anak lelakinya, Marie Madeleine dHouet dituntun Tuhan dari waktu ke waktu, dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya, sampai ia mengenali kehendak Allah dan menjawabnya.

Salah satu pengalaman mistik yang dialami Marie Madeleine, mendengar suara dari salib ”Aku haus”. Itu terjadi pada 13 Juni 1817 saat Hari Raya Hati Kudus Yesus. Kehausan Yesus itulah yang menjadi dasar dan arah pelayanan Suster-suster FCJ dari dulu sampai sekarang.

Menjadi relevan dengan kebutuhan jaman menggerakkan para suster FCJ untuk tidak lelah mencari dan menemukan apa kehausan Yesus dari jaman ke jaman.
Di Yogyakarta, salah satu kerasulan utama Suster-suster FCJ adalah di bidang spiritualitas (bimbingan rohani, retret, rekoleksi, pendalaman iman). Kerasulan tersebut dipilih sebab kebutuhan akan dampingan rohani cukup besar. (bambang sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here