Home Berita Peradi Pergerakan Berdiri

Peradi Pergerakan Berdiri

53
0
SHARE
Pembentukan organisasi advokat. (tiras.co/bambang sk)

JAKARTA. tiras.co – Organisasi Advokat Persaudaraan Penasihat Hukum Indonesia (Peradi Pergerakan) dibentuk bertepatan dengan Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-92 di Gedong Joeang, Menteng, Jakarta, Rabu (28/10/2020) lalu. Menandai pembentukan Peradi Pergerakan itu diserahkan pataka pergerakan dari advokat senior Hermawi Taslim kepada ketua umum terpilih Sugeng Teguh Santoso .

Sugeng menyampaikan komunitas advokat, komunitas keahlian hukum mandiri menjalankan fungsi negara dalam penegakan hukum yang independen (independent state organ). Komunitas yang dinyatakan sebagai penegak hukum berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat, adalah Advokat. Dalam konteks ini advokat harus diterima resmi sejajar dengan penegak hukum lainnya, yakni hakim, jaksa dan polisi.

Namun harapan itu menurutnya masih jauh panggang dari api. Status advokat sebagai penegak hukum adalah yuridis, namun secara fakta tidak. Karena itu, visi dan misi UU No. 18 Tahun 2003 harus diwujudkan. Cara mewujudkannya dengan kinerja serta membangun kehormatan dan wibawa profesi.

”Kami semua memahami bahwa upaya ini tidak akan jatuh dari langit seperti mimpi. Bagaikan mimpi,” ujar Sugeng dalam sambutan pelantikan struktur kepengurusan Peradi Pergerakan, usai penyerahan pataka Peradi Pergerakan.

Disadari sebagai ketua umum, dirinya bertugas mewujudkan kesederajatan hak sebagai penegak hukum, sebagaimana diamanatkan undang-undang. Dipahami pula kesejajaran penegak hukum tidak sama yang berdampak pada komunitas advokat belum memiliki wibawa dan kehormatan dibanding penegak hukum lainnya.

Pelengkap Penderita

Ia menilai komunitas advokat masih direndahkan, dianggap hanya pelengkap penderita.Itu karena perilaku sebagai advokat yang merendahkan martabat profesi semata-mata karena pertimbangan ekonomi. Advokat juga tidak berada dalam ruang hampa yang teralienasi dengan lingkungannya berasal. Ia ada bersama-sama dan di tengah masyarakat bangsa yang dijadikan objek perlindungan oleh negara sebagai amanat konstitusi.

Dalam konteks ini, sambung Sugeng, martabat dan kehormatan advokat ada di masyarakat. Sebagai konsekuensinya adalah, organisasi advokat harus peka pada amanat penderitaan rakyat, khususnya bagi masyarakat yang tidak mampu. Digarisbawahi, Pasal 22 UU Advokat bukan pajangan semata, pasal itu harus diwujudkan dan dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Sebagai tindak lanjut adalah, dalam perspektif tugas advokat, menegakkan keeadilan, kebenaran dan hukum advokat dan organisasi advokat (OA) harus diawali dengan memahami politik hukum dalam penyususunan peraturan tersebut UU.

Advokat harus faham undang-undang sebagai perwujudan politik hukum telah memenuhi prinsip-prinsip konstitusi atau menyimpang dr konstitusi. Setiap advokat harus memahami bahwa dalam prinsip negara hukum ada 3 (tiga) hal penting setidaknya harus ada yakni demokrasi, peradilan yang bebas dan hak asasi manusia (HAM).

Latar belakang pembentukan OA Persaudaraan Penasihat Hukum Indonesia (Peradi Pergerakan) untuk menegaskan bahwa mereka berada pada posisi membantu pemerintah menegakkan prinsip negara hukum, mewujudkan demokrasi, mendorong dan menjaga peradilan yang bebas dan melindungi hak asasi warga negara sesuai pasal 3a Kode Etik Advokat.

Terkait UU Cipta Kerja, Sugeng menjelaskan, dalam politik hukum kekinian, UU tersebut harus disoroti sebagai suatu politik hukum yang dipertanyakan konstitusionalismenya. Pertanyaan itu berdasarkan pada bahwa, dalam proses sampai dengan disahkannya, UU Cipta Kerja menimbulkan kontroversi. Pertama, karena proses pembentukannya tidak transparan. Kedua, terjadi bias sumber mana yang benar dari draft yang beredar – yang bisa dilihat dari jumlah halaman yang terus menjadi wacana diskusi.

Menurut dia, para advokat seharusnya berada di garda terdepan untuk bisa mencerahkan masyarakat apakah UU sudah sesuai dan memenuhi konstitusionalitas sebaga UU. Ini menjadi tugas Peradi Pergerakan sebagai OA. Advokat harus memiliki kepekaan yang tinggi terhadap keadilan sosial dan senantiasa siap untuk memperjuangkannya.(bambang sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here