Home Berita Pentingnya Ciptakan Sistem Pertanian Berkelanjutan yang Tepat Guna

Pentingnya Ciptakan Sistem Pertanian Berkelanjutan yang Tepat Guna

373
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Duta Besar Thailand untuk Indonesia H.E. Songphol Sukchan mengatakan, negara yang masuk dalam wilayah tropis memiliki karakteristik sistem pertanian yang berbeda dengan wilayah lainnya. Mulai dari aspek natural seperti temperatur wilayah dan jenis tanaman hingga aspek sosio ekonomi yang berkaitan dengan institusi dan masyarakat.

“Hal itulah yang menjadi fokus bahasan dalam pertanian tropikal. Salah satu isu terkini yang perlu pula dibahas adalah bagaimana menciptakan sebuah sistem pertanian yang berkelanjutan,” kata Songphol Sukchan dalam pembukaan International Tropical Farming Summer School (ITFSS) di Pascasarjana UMY, Senin (4/3/2019).

Menurut Songphol, pertanian yang berkelanjutan harus menjadi perhatian utama bagi negara yang berada dalam wilayah tropis, seperti Thailand dan Indonesia. “Ini karena sistem pertanian yang diterapkan di negara kita berbeda dengan teknologi yang berkembang di Barat,” tuturnya.

Dengan perkembangan yang ada, lanjutnya, kita harus dapat melahirkan inovasi yang sesuai untuk menciptakan sistem pertanian berkelanjutan yang tepat guna di wilayah tropis. Ini agar seluruh aspek yang terdapat dalam kegiatan pertanian yang dilakukan dapat menjadi sumber kesejahteraan, terutama untuk negara dan masyarakat.

Disebutkan salah satu prinsip yang harus dipenuhi dalam sistem pertanian berkelanjutan adalah resiliency. Dengan cepatnya perubahan yang terjadi saat ini, harus ada persiapan untuk dapat mengatasinya. Karenanya kemampuan untuk mengidentifikasi, meramalkan serta mengevaluasi bahaya yang mungkin terjadi di masa depan agar negara dapat segera pulih kembali sangat dibutuhkan. “Apabila kebijakan yang menekankan pada hal ini dilaksanakan, saya yakin tujuan kita untuk menciptakan masyarakat yang mandiri dalam aspek pertanian akan lebih mudah terwujud,” paparnya.

Target dari pertanian berkelanjutan adalah manfaat yang optimal, bukan pada manfaat yang maksimal. Karenanya aspek seperti rehabilitasi, konservasi dan kemandirian merupakan hal yang ditekankan. “Kegiatan ini merupakan cerminan dari komitmen kita dalam memberikan solusi untuk kehidupan yang lebih baik,” jelas Songphol.

ITFSS 2019 kali ini merupakan kali keempat diadakan Program Studi Agroteknologi UMY, berlangsung hingga Jumat nanti. Program sekolah musim panas tersebut diikuti 25 mahasiswa dari empat negara, yakni Jepang 13 mahasiswa, Spanyol 2 mahasiswa, Thailand 2 mahasiswa, dan Indonesia 8 mahasiswa. bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here