Home Berita Pengusaha Malioboro Merasa Diperlakukan Tidak Adil

Pengusaha Malioboro Merasa Diperlakukan Tidak Adil

324
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Para pengusaha pertokoan di Jalan Malioboro dan Jalan A. Yani Yogyakarta yang tergabung dalam Perkumpulan Pengusaha Malioboro Ahmad Yani (PPMAY) mengaku resah menyusul rencana Malioboro bebas kendaraan bermotor termasuk roda empat.

“Kami pengusaha Malioboro sebagai warga Malioboro seringkali tidak diajak bicara dan diskusi kalau ada proyek pembangunan di Malioboro. Kami merasa diperlakukan tidak adil,” kata Ketua Umum PPMAY Sadana Mulyono dalam kesempatan buka puasa bersama bersama pers di Yogyakarta, Sabtu (1/6/2019). Diskusi mengenai dampak negatif penerapan pedestrian Malioboro bebas kendaraan bermotor malam itu dihadiri puluhan pengusaha pertokoan Malioboro dan Jl A. Yani.

Selain itu juga dikeluhkan berkait persoalan dengan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di depan toko mereka. Juga, susahnya parkir di Malioboro. Permasalahan antara pemilik toko dengan para pedagang PKL di lahan pengusaha pertokoan itu disebutnya sudah berlangsung puluhan tahun, tapi upaya penyelesaian oleh Pemkot Yogyakarta berjalan timik-timik seperti keong. “Kami PPMAY sudah kirim surat ke Sultan HB X dan GKR Hemas, tapi sampai kini tidak ada respon sama sekali,” keluh Sadana.

Ia mengaku sejak revitalisasi Malioboro semi pedestrian diberlakukan, yaitu sepeda motor tidak boleh lagi parkir di depan toko mereka, omset penjualan turun dratis. Dan, baru, ketika setiap Selasa Wage PKL tidak berjualan, para pemilik toko mengaku bisa bernafas. “Tidak proporsional lagi jumlah toko dengan PKL. Kita mau masuk tokonya sendiri saja sungkan. Kita sebetulnya pengusaha yang teraniaya oleh mayoritas (PKL),” kata Sadana seraya menyebutkan jumlah toko hanya 200-an, sedangkan jumlah PKL mencapai 3.000-an. bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here