Home Senggang Penantian Panjang Menanti Gajah Lahir

Penantian Panjang Menanti Gajah Lahir

233
0
SHARE

MESKIPUN sejak 22Maret hingga 31 Maret 2020, Gembira Loka Zoo (GL Zoo) Yogyakarta tutup sementara bagi pengunjung untuk mengurangi dampak virus Corona (Covid-19), namun karyawan khususnya perawat satwa kebun binatang itu tetap masuk kerja.
Muhammad Adi Satria, salah satu mahout atau perawat gajah GL Zoo itu pun tidak libur. Seperti delapan mahout lainnya, ia harus aplusan masuk kerja. Apalagi, kebun binatang terbesar di Jateng dan DIY ini baru saja menambah satu satwa koleksinya, setelah bayi gajah yang dinanti-nanti lahir.
Bledug atau anak gajah ini lahir pada Rabu (25/3) dini hari lalu Pkl 02.06 WIB. Bayi gajah berkelamin betina ini lahir dari indukan Sinta (21 tahun). Setelah dibuahi lewat perkawinan alami oleh pasangannya, Argo (30 tahun).
Sinta merupakan gajah betina berasal dari Pusat Konservasi Gajah Seblat Bengkulu. Didatangkan ke GL Zoo pada 2015. Sedangkan Argo, indukan jantan juga merupakan gajah Sumatra. Dihadirkan dari dari Pusat Latihan Gajah Way Kambas Lampung ke kebun binatang Yogyakarta ini pada 1996. Dengan kelahiran gajah Sinta ini berarti GL Zoo kini memiliki koleksi 9 ekor gajah.
Kendati tengah merebak Covid-19, mahout Adi Satria bersama 8 perawat gajah lainnya tiap pagi secara bergilir masuk kerja untuk merawat gajah yang menjadi tanggung jawabnya. Pekerjaan yang rutin dilakukan dari membersihkan kandang, memandikan gajah dan memberi pakan serta minum.
Sejak Sinta bunting, bagian konservasi kebun binatang itu mengawasi dan merawat secara intensif. Pemberian pakan khusus dan multivitamin terus dilakukan demi menjaga kondisi sang induk betina. Pemantauan melalui USG pun dilakukan untuk memastikan janin berkembang baik. Tiap pagi dan sore, Sinta juga diajak jalan-jalan mengelilingi danau buatan Mayang Tirta kompleks kebun binatang itu. Ini untuk menjaga kondisi tubuhnya selama proses kehamilan.
Sinta ditempatkan di kandang asuh khusus bagian dalam, dipisahkan dengan dengan 8 gajah lainnya. Demi kelancaran proses kehamilan dan persalinan. Dan proses persalinan Sinta pun akhirnya berlangsung lancar. Tanda-tanda kelahiran seperti feses yang mengecil dan sedikit gelisah mulai sore sebelum melahirkan. Maka, para mahout dan dokter menyiapkan segala alat dan kebutuhan, baik untuk perawatan maupun obat.
“Begitu ‘brujul’ anaknya lahir, respons Sinta, induknya sangat baik. Dengan kaki dan belalainya, bayi gajah itu disenggol-senggol untuk dibantu berdiri,” tutur Adi Satria yang turut menunggui proses kelahirannya.
Manager Konservasi GL Zoo, Josephine Vanda Tirtayani menjelaskan, perilaku seperti menendang-nendang anak gajah maupun menggerak-gerakkan dengan belalainya seperti itu adalah hal yang wajar untuk induk yang baru saja melahirkan.
Meski pada awalnya Sinta sempat bingung dengan kelahiran anak pertamanya, setelah beberapa waktu langsung menunjukkan rasa sayangnya dengan naluri keibuannya kepada bayi yang baru saja dilahirkan. Ketika bayi gajah merengek dan mencoba berdiri dengan tertatih, sang induk Sinta sigap membantu dengan belalainya. Bayi gajah sudah mampu menyusu sendiri setelah 2 jam kelahirannya. Walau sempat bingung mencari posisi puting susu yang cukup sulit digapai.
Lama gajah bunting butuh waktu cukup lama, sekitar 18-22 bulan. Sedangkan Sinta sendiri melahirkan setelah mengandung selama 21 bulan. Umumnya bayi gajah lahir dengan berat antara 90-100 Kg. Untuk bayi Sinta ini lahir normal seberat 98 Kg, tinggi 84 Cm dan lingkar dada 1,09 m.
Terakhir kali pada 1992, gajah koleksi kebun ini melahirkan. Karena itu, GL Zoo pantas bersukacita karena baru berhasil dalam pengembangbiakan terkontrol atas satwa endemik Indonesia, yaitu gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus) ini setelah menunggu selama 28 tahun. Usaha dan penantian panjang yang tak sia-sia. Bambang SK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here