Home Berita Pemberdayaan Masyarakat Desa Harus Sigap Digerakkan

Pemberdayaan Masyarakat Desa Harus Sigap Digerakkan

334
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI saat ini mengembangkan produk unggulan kawasan perdesaan. “Kita mencoba memanfaatkan nilai tambah dari desa, tujuannya untuk meningkatkan skala ekonomi produksi,” kata Staf Ahli Kemendes PDTT Dr Ir Conrad Hendrarto MSc dalam seminar nasional pengabdian masyarakat di Hotel Grand Dafam Yogyakarta, Selasa (27/8/2019).

Acara bertajuk Sinergi dan Strategi Akademisi, Business, dan Government (ABG) dalam Mewujudkan Pemberdayaan Masyarakat yang Berkemajuan di Era Industri 4.0 ini diselengggarakan Lembaga Penelitian, Publikasi, dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3M UMY) kerjasama dengan Program Studi Ilmu Pemerintahan (IP) UMY.

Selain itu, lanjut Conrad Hendrarto, ada Badan Usaha Milik Desa atau lebih dikenal dengan BUMDes. Ini untuk menggerakkan masyarakat desa agar dapat memanfaatkan lingkungan dalam membantu perekonomian perdesaan.

Menurutnya, di era memasuki revolusi 4.0, peran perguruan tinggi (PT) dalam pemberdayaan masyarakat desa harus sigap digerakkan. Beberapa contoh peran PT dalam pemberdayaan masyarakat desa yaitu mengenai pengembangan sumber daya alamnya. Dapat dilakukan dengan melakukan pelatihan teknologi pengolahan hasil pertanian dan pelatihan pengembangan mikrohidro dan biogas. Selain itu, penting juga mengembangkan sumber daya manusianya, pengembangan teknologi tepat guna, serta pengembangan perekonomian desa yang ditandai dengan pelatihan pengembangan hutan desa dan pertanian organik.

Kepala LP3M UMY Dr Ir Gatot Supangkat menyampaikan, salah satu Tridharma PT yang wajib dilakukan adalah pengabdian kepada masyarakat. Selain mengajar, peran dosen pada PT melakukan pengabdian kepada masyarakat. Ini sama pentingnya dengan penelitian dan pendidikan.

Gatot juga menyoroti terkait versi pengabdian yang dilakukan dari masa ke masa. Ada beberapa ciri-ciri pengabdian kepada masyarakat dari masa lalu, masa kini, dan masa depan. Pada pengabdian masa lalu lebih menekankan bagaimana kegiatan yang tanpa biaya membutuhkan penyuluhan, pelatihan, dan pembangunan fisik. Berbeda dengan saat ini, dapat menumbuhkan sinergi yang berkelanjutan antar program, masyarakat sebagai mitra pembangunan, dan peluang bagi mitra untuk investasi. “Sedangkan untuk masa depan, lebih mengarah ke peluang kerjasama nasional/internasional,” jelasnya. bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here