SHARE
DISKUSI: Para peserta diskusi publik bertajuk ‘Mengembalikan Reformasi Yang Kita Mau’ di University Club UGM. (tiras.co/bambang sk)

JOGJA, tiras.co – Sosiolog UGM Arie Sujito menilai gagalnya partai politik melahirkan kader pemimpin bangsa karena tidak adanya kemauan elit partai untuk berubah. Selain itu, adanya jurang lebar antara generasi dahulu dengan zaman sekarang, sehingga pelibatan generasi muda dalam dunia politik harus dilakukan mulai sekarang.

“Bila melihat kondisi saat ini, partai-partai sekarang masih belum berubah. Mereka masih melakukan korupsi yang merupakan warisan buruk dari Orde Baru, baik di pusat maupun daerah,”’ katanya dalam diskusi publik bertajuk ‘Mengembalikan Reformasi Yang Kita Mau’ di University Club UGM, Senin (15/1/2018).

Selain tidak bisa melahirkan kader terbaik memimpin, saat ini partai yang haus kekuasaan disebutnya mencoba kembali menarik anggota militer untuk berpolitik. Itu bisa dilihat dari calon-calon kepala daerah yang mereka ajukan dalam Pilkada.

Padahal sejak reformasi 1998, lanjut Arie, militer diharapkan fokus dalam peningkatan profesionalitas bidang ketahanan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, yaitu masih adanya partai yang mengajukan calon kepala daerah dalam Pilkada.

Dari perubahan ideologi kebangsaan yang besar dari publik ke partai dan sekarang ke aktor politik, ternyata menghasilkan jurang lebar antargenerasi. Kondisi ini membuat generasi tua yang turut dalam perjuangan bangsa terkekang masa lalu dan gagal memberikan perubahan di masa sekarang.

Demikian juga dengan generasi muda sekarang, mereka cerdas namun mengalami disorientasi. Karena itu, menurutnya untuk menghidupkan kembali politik massa dengan tujuan keterlibatan masyarakat dalam dunia politik harus ada komunikasi lintas generasi.

Generasi tua harus mampu menggambarkan kebaikan-kebaikan apa saja di masa lalu yang memberi pengaruh perjalanan bangsa. Sedangkan generasi muda menciptakan suatu terobosan dari sejarah untuk menghadapi tantangan 10-20 tahun ke depan.

Ini mengingat masa depan kekuasaan adalah milik pemuda generasi sekarang. “Jika generasi muda dan tua mampu menyamakan satu tujuan demi keadilan sosial di zaman keterbukaan informasi internasional, maka sumbatan besar kemajuan bangsa ini bisa diatasi,” tuturnya.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here