Home Senggang Patah Hati di Sastra Bulan Purnama

Patah Hati di Sastra Bulan Purnama

243
0
SHARE
Para cerpenis siap membacakan puisi pada malam Hari Valentine. (tiras.co/ist)

BANTUL, tiras.co – Di Hari Valentine pada Jumat, 14 Februari nanti Sastra Bulan Purnama (SBP) akan diisi peluncuran antologi cerpen yang ditulis sepuluh perempuan dari pelbagai kota. Kegiatan berlangsung di Tembi Rumah Budaya, Jalan Parangtritis Km 8,5, Bantul.

Para cerpenis perempuan yakni Rani Februandari, Ninuk Retno Raras, Savitri Damayanti (Yogyakarta), Yuliani Kumudaswari (Sidoarjo), Sus S Hardjono (Sragen), Yanti S Sastroprayitno (Semarang), Ristia Herdiana (Jakarta), dan Yeni Mada (Pontianak).

Koordinator SBP, Ons Untoro menjelaskan, tajuk acara bernuansa cinta ”Mengenang Mantan di Bulan Purnama”. Para cerpenis sengaja mengusung tema patah hati, setidaknya pengalaman patah hati yang pernah dirasakan. Kata mantan menunjukkan mereka pernah ada relasi.

Judul antologi cerpen ”Firdaus yang Hilang”, diambilkan salah satu dari sepuluh judul cerpen yang ada di dalam buku. Cerpen itu karya Rani Februandari. Cinta pertama, atau hubungan percintaan, seolah berada di dalam Firdaus, semuanya serba indah dan menyenangkan. Dan ketika hubungan itu putus, Firdaus akan segera lenyap, atau mungkin membekas dan menyelinap dalam ingatan.

Serba Menyenangkan

Firdaus dalam cerpen karya Rani adalah nama orang. Kemungkinan nama yang diambil sebagai tokoh dalam cerpennya, untuk memberikan imajinasi bahwa cinta pertama, atau dengan kata lain, jatuh cinta segala hal seperti serba menyenangkan, seolah seperti dalam Firdaus. Tokoh Firdaus akhirnya berantakan, tapi awalnya memberikan imajanasi keindahan.

Masing-masing penulis cerpen cukup lama mengumpulkan ingatan yang sudah berserakan tentang masa lalunya. Mereka menatanya kembali untuk dikenang, mungkin juga sempat sedikit membuka luka hati ataumalah sama sekali sudah dilupakan sehingga kesulitan untuk menulis cerpen dengan tema pata hati.

Penulis cerpen juga akan membacakan penggalan cerpen karyanya sendiri, Yeni Mada, penulis cerpen dari Pontianak, dalam membacakan karyanya akan diiringi petikan gitar oleh Syarif Hidayatulah. Satu cerpen karya Umi Kulsum, akan digarap dalam bentuk drama musikal oleh Sanggar Cepuri. Krisbudiman, pengajar di Pascasarjana UGM, yang kebetulan novelnya berjudul ”Tanah Putih” sudah diterbitkan, akan menutup acara dengan membacakan petikan novelnya.(bambang sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here