Home Berita Pasien Ginjal Kronis Terus Meningkat

Pasien Ginjal Kronis Terus Meningkat

556
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Untuk mengedukasi pasien ginjal kronis dan pendamping pasien akan pentingnya akses vaskuler dalam proses tindakan hemodialisis, Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) menggelar seminar awam bertema “Pencegahan Masalah Akses Vaskuler pada Pasien Gagal Ginjal” di Grand Pacific Restaurant & Convention Hall, Yogyakarta, Minggu (6/5/2018).

Ketua KPCDI Tony Samosir menilai pentingnya merawat dan memelihara akses vaskular pada pasien penyakit tersebut, sehingga adekuasi pada tindakan hemodialisis tercapai. “Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah pencegahan terhadap masalah yang mungkin muncul dikemudian hari yang dapat menghambat proses hemodialisis,” katanya.

Acara menampilkan pembicara Dr dr Supomo Sp.BTKV(K), dokter spesialis bedah vaskuler yang membahas topik terkait pencegahan malasah vaskuler pada pasien gagal ginjal. Sedangkan pembicara lain dr Niko Azhari Hidayat Sp.BTKV mengupas seputar peran dokter dalam menciptakan av shunt yang ideal untuk hemodialisa.

Dokter Supomo menyebutkan, dalam hemodialisis, darah dari arteri di lengan dialirkan melalui tabung plastik tipis ke mesin yang disebut dialyzer. Dialyzer menyaring darah, bekerja seperti ginjal tiruan, untuk mengeluarkan cairan ekstra dan limbah dari darah. Darah yang dibersihkan kemudian mengalir keluar dari mesin melalui tabung lain yang ditempatkan di pembuluh darah di dekatnya di lengan yang sama.

Pasien gagal ginjal disebutnya memiliki dua sampai tiga sesi cuci darah setiap minggu. Setiap sesi berlangsung sekitar 4 atau 5 jam. Sebelum seseorang bisa memulai hemodialisis, perlu ada cara untuk mengeluarkan darah dari tubuh (dalam jumlah besar) lalu mengembalikannya. Arteri dan vena biasanya terlalu kecil, sehingga operasi dilakukan untuk membuat akses vaskular.

Dokter Niko menyebut tiga macam akses vaskular, salah satunya adalah pemberian AV Fistula. Fistula, yang juga disebut fistula arteriovenosa atau fistula A-V dibuat dengan bergabung dengan arteri dan vena di bawah kulit di lengan. Saat arteri dan vena bergabung, tekanan di dalam vena meningkat, membuat dinding pembuluh darah lebih kuat. Vena yang lebih kuat kemudian bisa menerima jarum yang digunakan untuk hemodialisis. Fistula A-V biasanya membutuhkan waktu 3 sampai 4 bulan untuk menyembuhkan sebelum dapat digunakan untuk hemodialisis. “Fistula bisa digunakan selama bertahun-tahun,” ungkapnya.

Menurut Tony, jumlah pasien dengan penyakit ginjal kronis terus meningat dari tahun ke tahun. Seperti dicatat Indonesian Renal Registry (IRR) pada 2015 pasien baru ginjal kronis mencapai 21.050 orang, dan jumlah tersebut naik di tahun 2016 sebesar 25.446 orang. Sehingga, pasien ginjal kronis di Indonesia diperkirakan lebih dari 150.000 orang. “Tentunya, ini menjadi perhatian kita semua,” katanya seraya menambahkan, rendahnya kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat, menjadi masalah utama terjadinya ginjal kronis. “Promotif dan preventif adalah solusi yang paling efektif saat ini sebagai pencegahannya,” sebutnya.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here