Home Berita Pancasila Jembatan Penghubung Seluruh Perwakilan di Indonesia

Pancasila Jembatan Penghubung Seluruh Perwakilan di Indonesia

600
0
SHARE
Yudi Latif

JOGJA, tiras.co – Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Yudi Latif MA PhD menyebut Pancasila sebagai sebuah jembatan yang mampu menghubungkan seluruh perwakilan yang ada di Indoensia.

Menurut dia, negara ini adalah contoh konkret untuk kemajemukan suatu bangsa, dan hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai wadah pertarungan untuk berbagai macam ideologi yang mewakili kemajemukan tersebut. “Di sini kemudian Pancasila masuk sebagai sebuah perantara yang mampu menjadi ciri kebersamaan di tengah-tengah perbedaan yang ada,” paparnya Yudi dalam kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (15/3/2018). Acara diselenggarakan kerjasama antara Program Studi Doktor Politik Islam-Ilmu Politik, Magister Ilmu Pemerintahan, Magister Ilmu Hubungan Internasional Pascasarjana, S1 Hubungan Internasional, Ahmad Syafi’i Ma’arif School of Political Thought and Humanity UMY dan UKP-PIP Republik Indonesia.

Mengusung tema “Islam dan Pancasila sebagai Inspirasi Maju Indonesia Kita”, Yudi menyebutkan berdasarkan sejarah, perumusan teks proklamasi dan juga Pancasila merupakan proses pengambilan keputusan yang mengikat seluruh peserta yang terlibat di dalamnya. Proses ini melibatkan seluruh perwakilan dari berbagai kelompok yang ada di Indonesia saat itu, namun paling menonjol di dalam perwakilan tersebut adalah kelompok Modernis Islam yang merupakan cikal bakal dari Muhammadiyah saat ini.

Bahkan, lanjunya, dalam perumusan Pancasila, kelompok modernis Islam memiliki peran yang vital dalam pembentukannya. Menurutnya, kondisi Indonesia yang majemuk ini serupa dengan keadaan Madinah di zaman Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. Di mana saat itu kota Madinah tidak hanya dihuni oleh pemeluk Islam, namun juga oleh Yahudi dan Nasrani. “Posisi Pancasila di sini serupa dengan Perjanjian Madinah yang memiliki karakteristik berupa keadilan yang menyeluruh bagi seluruh pihak yang terikat olehnya,” katanya.

Dijelaskan bahwa Pancasila dan Islam memiliki titik temu dalam prinsipnya. Suka atau tidak suka elemen terpenting dalam kesepakatan perumusan Pancasila berasal dari paham Islam modernis Muhammadiyah melalui keterlibatan berbagai tokoh seperti Ki Bagus Hadikusumo hingga Ir Soekarno. “Indonesia memang bukan negara Islam, namun kita sepakat bahwa Indonesia merupakan negara religus, dan hal ini yang disepakati bersama oleh seluruh perwakilan saat itu dengan lahirnya sila pertama kita,” jelasnya.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here