Home Berita Pameran Godhong Suruh, Berbeda TIdak Harus Terbelah

Pameran Godhong Suruh, Berbeda TIdak Harus Terbelah

330
0
SHARE

BANTUL, tiras.co – Sembilan belas 19 perupa dari Kelompok Termos’85 bakal memamerkan karyanya di Galeri Tembi Rumah Budaya Jl Parangtritis Bantul, 8-21 Juni 2019.

Mengusung tema Godhong Suruh (Daun Sirih), para perupa alumni Pendidikan Seni Rupa IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) mengeksplorasi banyak hal. Ada yang mengekspresikannya lewat lukisan. Ada pula yang membuat patung. Ada yang menggunakan cat minyak, akrilik, karyon, cat air maupun media campuran (mixed media). Ada yang menghadirkan satu karya, ada pula yang dua.

Mantan Wali Kota Yogya Herry Zudianto akan membuka pameran ini, dengan dimeriahkan musik gamelan anak, binaan salah satu peserta pameran, Fahrur Rozi.

Ketua Panitia Pameran Tri Wiyono mengatakan, tema Godhong Suruh diambil untuk merefleksikan situasi aktualitas maupun kondisi kelompok Termos’85 sendiri. Daun sirih mempunyai dua sisi berbeda. Di sisi atas berwarna hijau tua dengan permukaan glossy. Di sisi bawah berwarna hijau keputih-putihan, dengan permukaan dof. “Walaupun kedua sisi lumah lan kurepe berbeda, godhong suruh tidak terbelah. Ia sepakat manunggal untuk memformulasikan kandungan rasa yang sama,” ujarnya.

Guru seni pada satu SMK ini menambahkan, godhong suruh juga dipakai untuk menggambarkan hubungan antar suadara sinarah wadi. Hubungan saudara istimewa. Jika yang satu dicubit, yang lain ikut merasa sakit. Seperti hubungan istimewa antara Kresna dan Arjuna dalam pewayangan. Selain itu, godhong suruh juga dipakai untuk menggambarkan hubungan antara suami dan istri, yang berbeda latar belakang dan fisiknya, tapi saling melengkapi untuk mewujudkan cita-cita bersama.

Tri pun menenyebutkan tujuan pameran ini agar dapat udhu-udhu klungsu, walaupun sangat sedikit ikut urun-urun, untuk menjaga agar yang berbeda tidak terbelah, yang terluka tidak menganga dan yang susah sedikit terhibur. “Paling tidak mulai dari kelompok Termos’85,” katanya.

Pengamat seni budaya Ons Untoro mengatakan, Kelompok Termos’85 ini memakai idiom lokal, godhong suruh (daun sirih) untuk meneguhkan persahabatan di antara mereka. “Usia mereka tidak lagi muda mungkin sudah di atas 50 tahun, dan saya tahu ada yang sudah lebih dari 60 tahun. Namun mereka, dalam usia yang tidak lagi muda, dan mengalami pahit getirnya kehidupan, setidaknya seperti rasa suruh (sirih), tetapi terus menghasilkan karya,” tegas Ons.

Dicontohkan satu karya yang menyajikan visual seorang perempuan tua, sebagai satu konstruksi dari garis-garis, memberikan nuansa lokal dan alami. Karya Sarjianto Sekar itu diberi judul ‘Nyirih bukan Nyinyir’. “Karya ini terasa kontekstual, kalau kita dekatkan kondisi sekarang, yang pahit dan nyinyir saling berseteru. Kalau aktivitas ‘nginang’ yang pahit meneguhkan rasa di lidah, kalau dalam kontektualitas kehidupan hari-hari ini, yang (di) rasa (kan) pahit membuatnya terus nyinyir untuk menolak rasa pahit, artinya tidak menerima kenyataan. Berbeda dengan orang nginang, rasa pahit dinikmati: kenyataan itu diterima,” papar Ons.*/bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here