Home Berita Musim Hujan Tiba, Masyarakat Diimbau Waspadai Demam Berdarah

Musim Hujan Tiba, Masyarakat Diimbau Waspadai Demam Berdarah

352
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Meski kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Yogyakarta tahun ini mengalami penurunan, namun masyarakat diimbau tetap waspada.

“Kewaspadaan harus ditingkatkan, terutama di awal musim penghujan,” ujar Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta, Agus Sudrajat, SKM Mkes kepada pers di Yogyakarta, Kamis (15/11/2018).

Ia sebutkan, hingga awal November 2018 terdapat 81 Kasus DBD dengan korban meninggal 2 orang. Angka tersebut lebih sedikit dibanding periode sama tahun sebelumnya, yakni 397 kasus dan korban meninggal 2 orang.

Agus mengimbau masyarakat untuk tetap menggalakkan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui implementasi gerakan “Satu Rumah Satu Jumantik (juru pemantau jentik)”. Hal tersebut disebutkan sebagai cara yang efektif untuk memutus rantai perkembangan nyamuk Aedes aegypti, penular penyakit DBD. Ini sejalan dengan slogan Hari Kesehatan Nasional 2018, yaitu ‘Ayo Hidup Sehat Mulai Dari Kita’.

Dalam kaitan itu pihaknya bekerjasama dengan World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta membuka booth di Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) pada 2 – 19 November 2018 untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terkait bahaya DBD. Kerjasama tersebut merupakan bagian dari kerjasama Dinkes Kota Yogyakarta dengan WMP Yogyakarta dalam mendukung penelitian pengendalian DBD menggunakan bakteri alami Wolbachia.

Peneliti Utama WMP Yogyakarta Prof Adi Utarini mengungkapkan, WMP Yogyakarta baru saja menerima anugerah penghargaan sebagai Riset Kolaboratif Bidang Eksakta Terbaik Tahun 2018 di UGM. Saat ini tengah melaksanakan studi terakhir untuk mengetahui dampak pelepasan Ae. aegypti ber-Wolbachia pada skala luas terhadap penurunan kasus DBD di Kota Yogyakarta.

Menurutnya, pelepasan nyamuk ber-Wolbachia sendiri telah selesai dilakukan dengan menitipkan tak kurang 8.000 ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia di rumah-rumah warga terpilih di Kota Yogyakarta sejak November 2017 yang lalu.

Prof Adi menuturkan, pihaknya tetap melakukan pemantauan persentase Wolbachia dengan menitipkan 437 BGTrap (alat perangkap nyamuk dewasa) di wilayah penelitian. Nyamuk yang terperangkap dalam alat tersebut diambil sepekan sekali untuk diidentifikasi dan diperiksa kandungan Wolbachia-nya. Dari aktivitas tersebut didapatkan hasil bahwa persentase Ae. aegypti ber-Wolbachia kini stabil di atas 80% di seluruh wilayah pelepasan.

Studi dampak bertajuk Aplikasi Wolbachia dalam Eliminasi Dengue (AWED) dilakukan dengan merekrut pasien demam yang berobat di 18 Puskesmas dan Puskemas Pembantu di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. “Ada satu perawat yang berjaga di setiap Puskesmas,” tutur Epidemiolog WMP Yogyakarta dr Citra Indriani.

Perawat WMP tersebut bertugas mengajak pasien-pasien demam yang berusia 3-45 tahun agar bersedia menjadi responden dalam penelitian. Diimbau partisipasi masyarakat Kota Yogya dalam penelitian ini.*/bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here