Home Berita Muhammadiyah Tak Sepakat dengan Usaha Deradikalisasi

Muhammadiyah Tak Sepakat dengan Usaha Deradikalisasi

558
0
SHARE
Siti
Siti Noordjannah Djohantini. (tiras.co/bam)

JOGJA, tiras.co – Muhammadiyah tak sepakat dengan usaha untuk menurunkan aksi intoleran yang saat ini dilakukan berbagai pihak. “Pimpinan Pusat tidak sepakat dengan usaha-usaha deradikalisasi yang saat ini banyak dilakukan beberapa pihak,” tandas Ketua Umum PP Aisyiah, Dra Siti Noordjannah Djohantini, MM, MSi dalam Seminar Pendidikan Multikultural pada Anak Melalui Perspektif Tarbiyah dan Psikologi di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (28/10/2017).

Menurut Siti, apabila nilai-nilai keagamaan ditanamkan dengan baik pada anak, hal itu akan menjadi penuntun dalam pertumbuhannya. Perbedaan merupakan hal yang baik dan sudah menjadi ketetapan dari Tuhan. Dalam perbedaan tersebut tentunya dapat mendorong untuk saling tolong-menolong pada kebaikan. Dan hal itu diperintahkan dalam Islam.

Berkaca pada masa awal gerakan dakwah Muhammadiyah, dimana banyak pendukung gerakan ini bukan orang yang satu keyakinan dengan Kyai Ahmad Dahlan. Namun mereka memahami bahwa yang dilakukan oleh Kyai adalah demi kepentingan umat, karena itu mereka turut membantu.

Noordjannah menyampaikan bahwa keberagaman dan menghargai kemajemukan menjadi bagian dari pendidikan yang harus diberikan kepada anak. Terlebih oleh para peserta yang hadir, karena sebagian besar adalah mahasiswa yang nanti akan memebntuk keluarga dan menjadi wadah pertama dari pendidikan dini untuk anak. Untuk itu, pengaplikasian nilai multikultural tentang menghargai dan menghormati tersebut harus disesuaikan pula pada pendidikan Islam dan juga psikologi anak.

Seminar ini diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) UMY dengan Majelis Kesejahteraan Sosial PP Aisyiyah. Bertujuan membentuk karakter anak yang mampu terbuka terhadap keberagaman. Terutama karena baru-baru ini ada tudingan intoleran yang ditujukan pada lirik Tepuk Anak Sholeh yang diajarkan pada TK ABA.

“Ini tema yang menarik untuk dibicarakan, karena yang menjadi pembahasan di sini adalah apakah pendidikan yang diberikan pada anak usia dini harus sudah demokratis ataukah otoriter dalam pembahasan akidah,” sebut Dr Akif Khilmiyah, MAg selaku Dekan FAI UMY.

Menurutnya, hal tersebut harus diklarifikasi karena tujuan dari pendidikan Islam selain menciptakan pribadi dengan akidah yang kuat, juga mampu untuk menghargai perbedaan. “Orangtua biasanya akan bersikap otoriter dalam pendidikan akidah anak,” katanya seraya menunjuk contoh ibu yang meminta anaknya untuk rajin sholat agar masuk surga bersama dengan orangtua.

Namun, lanjutnya, perlu juga diperhatikan tentang pentingnya mengajarkan sikap menghargai perbedaan yang ada di sekitar anak. “Ini yang berusaha kita lakukan, bagaimana membentuk anak yang memiliki akidah yang tak goyah dan juga dapat menghormati keberagaman,” harap Akif.>bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here