Home Berita Mitra Grab Mogok Makan

Mitra Grab Mogok Makan

372
0
SHARE
Pengemudi mitra Grab melakukan aksi mimbar bebas dan mogok makan di depan Kantor Grab. (tiras.co/istimewa)

SLEMAN, tiras.co – Pengemudi Grab yang tergabung dalam Front Independent Driver Online Indonesia menggelar aksi mimbar bebas dan mogok makan di depan Kantor Grab Yogyakarta. Mereka menuntut aplikator membuka fitur aplikasi bagi grabcar reguler di bandara. Presiden Front Independent Driver Online Indonesia, Sabar M Sihaloho mengatakan.

Aksi tersebut digelar karena sebelumnya berbagai upaya sudah dilakukan tapi tidak membuahkan hasil. ”Beberapa langkah persuasif seperti membuat petisi, audiensi beberapa Minggu lalu, tapi deadlock. Tidak ada keputusan memenuhi tuntutan kami,” tandasnya di depan Kantor Grab Yogyakarta, Ruko Casa Grande, Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Selasa (22/10).

Tujuh poin tuntutan mereka antara lain penghapusan sistem skema yang dianggap diskriminatif dan tidak transparan dari pihak Grab. Pembukaan fitur Grabcar bagi reguler di area bandara, penghapusan pungli Rp 2.000 per trip atau hilangkan potongan 20 persen.

Tuntutan lainnya, aplikator harus menuntaskan pemutakhiran data atau open suspen driver real individu. Transparan dalam aturan putus mitra agar lebih fair, penghapusan potongan tambahan dari koperasi, terakhir aplikator melakukan pemerataan order pada sesama mitra.

Dipaksa

”Selama ini yang dirasakan, mitra dipaksa ikuti apa maunya pihak aplikator,” ujar Sabar. Salah satu tuntutan pengemudi yaitu terkait penutupan fitur Grabcar reguler di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) mengacu pada kerja sama antara pihak Grab dan bandara.

Sabar menjelaskan, saat ini, yang bisa beroperasi di bandara hanya Grab airport dan roda dua yang sudah menjalin kerja sama dengan pihak bandara.
Pengemudi Grab reguler seperti dirinya tidak bisa masuk bandara karena terhalang regulasi.

Ia menganggap, Grab sudah menganakemaskan salah satu kelompok dan memotong pendapatan pengemudi lain yang seharusnya mempunyai peluang sama dalam mencari nafkah di bandara.

”Tidak hanya kami yang dirugikan, tapi konsumen juga dirugikan. Konsumen tidak diberi kebebasan memilih lagi. Sepemahaman kami, konsumen ketika sudah diberi fitur harusnya bebas mengakses. Tapi ini hanya bisa mengakses fitur Grab airport dan roda dua. Ini kerja sama yang dipaksakan,” ungkap Sabar.

Menurutnya, skema tarif antara Grab airport dengan Grabcar reguler jomplang. Paling murah Grab airport tarifnya Rp 70.000, sedangkan skema terdekat Grabcar reguler tarifnya Rp 27.000. Selain itu, sejumlah pengemudi menuntut penghapusan potongan 20 persen atau menghilangkan potongan tarif 20 persen pada tiap transaksi trip.

Dengan alibi ditanggung konsumen, ada potongan lagi sebesar Rp 2.000. Tapi, Grab sebagai aplikator tidak memberitahukanya pada konsumen sama sekali. Dalam realitasnya dilapangan, justru pengemudi yang dirugikan, karena pada dasarnya hasil kerja keras pengemudi yang diambil,” paparnya.

Menyikapi tuntutan itu, Perwakilan Manajemen Kantor Grab Yogyakarta, Yoga mengatakan pihaknya selalu membuka peluang diskusi dari berbagai tuntutan.
Namun, manajemen Kantor Grab Yogyakarta tidak bisa memberikan kebijakan dan memenuhi tuntutan langsung. ”Kami hanya sebagai penyambung dan tuntutannya kami sampaikan ke pusat,” ujar Yoga.(anton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here