Home Berita Merapi Hanya Berkabut dan Berdebu, Bukan Hujan Abu

Merapi Hanya Berkabut dan Berdebu, Bukan Hujan Abu

672
0
SHARE
Merapi2
Merapi2

(Foto Gunung Merapi dari twitter BPPTKG)

SLEMAN, tiras.co – Warga Sleman dan sekitarnya, Sabtu (26/8/2017) ramai dengan beredarnya kabar hujan abu Gunung Merapi di media sosial (medsos).Menurut kabar yang beredar, Sabtu dinihari hujan abu menyebar di sejumlah pelosok Sleman. Benarkah hujan abu?

Ternyata ini yang terjadi. Kutipan dari BPPTKG Yogyakarta yang bertugas mengamati Gunung Merapi dan BMKG DIY sekaligus membantah adanya hujan abu.

Berdasar twitter Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta @BPPTKG pada pukul 06.39 angin yang bertiup kencang di lereng barat Gunung Merapi, sejak kemarin malam membuat debu beterbangan. Aktvitas Merapi normal.

Artinya, tweet itu menjelaskan yang terjadi adalah “hujan” debu, bukan hujan abu! Hujan abu selalu dikaitkan dengan aktivitas letusan atau erupsi di gunung berapi.

Merapi4
Merapi4

(Foto Gunung Merapi dari twitter BPPTKG)

Versi yang berbeda, BMKG DIY menduga yang terjadi adalah kabut yang menyelimuti lereng Gunung Merapi.

Dalam rilis yang dikeluarkan oleh Sigit Hadi Prakosa dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG DIY) menambahkan bantahan BPPTKG itu. Menurut Sigit pantauan cuaca, Sabtu (26/8/2017) pukul 06.00 – 07.00 WIB terlihat seperti kabut menyelimuti wilayah DIY. “Dalam waktu yang bersamaan beredar berita erupsi merapi Sabtu pukul 00.40 WIB_ bersumber dr media online yang mengatasnamakan Antara yang dampaknya telah menimbulkan keresahan/kepanikan di masyarakat DIY. Terkait dgn info tersebut kami sampaikan berdasar konfirmasi ke BPPTKG DIY, Sabtu 26 Agustus 2017 kondisi Merapi normal,” jelas Sigit.

Dipaparkannya kondisi cuaca yang terjadi adalah kabut dibuktikan dengan data-data yang berupa hasil pengukuran kelembaban udara di Stasiun Geofisika pukul 07.00 WIB 99% dan di Stasiun Klimatologi 96%. Artinya kandungan uap air di udara sangat tinggi.

Dari hasil pengamatan menunjukkan visibility (jarak pandang) kurang dari 1 km. Serta terlihat tetesan air di permukaan daun (bukan abu).“Selain itu laporan pengamatan cuaca di wilayah lain (Sleman bagian utara) memperlihatkan fenomena yang terjadi adalah kabut. “Kabut akan hilang seiring dengan penyinaran matahari yang sampai ke permukaan tanah,” tegas Sigit. (ado/tiras.co/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here