Home Berita Mengharukan, Pertemuan Terakhir Diponegoro dengan Kyai Mojo

Mengharukan, Pertemuan Terakhir Diponegoro dengan Kyai Mojo

926
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Perbedaan pendapat dalam perang sering terjadi antara Pangeran Diponegoro dengan Kyai Mojo, tapi mereka berdua selalu bisa menyelesaikan dengan baik.

Karya lukisan Bambang Sudarto yang ditampilkan dalam Pameran Sasra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” menggambarkan, Kyai Mojo dan Pangeran Diponegoro sedang bersalaman dan berpelukan sambil meneteskan air mata. Peristiwa mengharukan itu disaksikan para ulama. Itulah pertemuan terakhir Pangeran Diponegoro dengan Kyai Mojo, karena setelah itu Kyai Mojo dijebak di Klaten.

Gambaran mengenai salah satu babak sejarah perang Diponegoro bisa disaksikan dalam Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro di Jogja Gallery Jalan Perkapalan Alun-alun Utara Yogyakarta, mulai 1 – 24 Februari 2019. Pembukaan pameran dilakukan oleh Duta Besar RI untuk China, Djauhari Oratmangun bersama pecinta seni Moetaryanto Poerwoaminoto AO, Jumat (1/2/2019 malam.

Karya 50 lukisan-lukisan ‘nyata’ lainnya berdasarkan biografi Pangeran Diponegoro tersebut juga dipajang dalam pameran yang diselenggarakan Paguyuban Trah Diponegoro (Patrapadi) itu. Pameran ini dikuratori Dr Mikke Susanto MA dan Dr Sri Margana Mphil.

Pameran seni rupa ini sebagai media sosialisasi babad Diponegoro. Ini karena memiliki berbagai fungsi, baik sebagai sebuah media yang mudah dicerna banyak orang maupun sebagai sarana ‘bertemu langsung’ secara visual dengan sang tokoh, meskipun melalui imajinasi para pelukis.

Gagasan pameran ini diawali oleh sejumlah individu, dan melalui organisasi Patrapadi serta Jogja Gallery. Pameran ini menyediakan diri sebagai sarana untuk mengingat, mempelajari, mengidentifikasi serta mengimajinasikan segala hal yang terkait dengan Diponegoro.

Direktur Jogja Gallery KRMT Indro “Kimpling” Suseno mengaku senang karena di luar dugaan pameran kali ini mendapat respon luar baisa dari berbagai kalangan. Selain sebagai sarana pembelajaran ilmu sejarah bangsa, juga membuat kalangan dosen ilmu seni rupa maupun masyarakat semakin yakin ternyata seni rupa mampu berbicara lebih banyak dibanding kata-kata.

Kurator Mikke Susanto menuturkan, semula panitia memilih 100 perupa, lantas disaring menjadi 50 perupa. Selain Bambang Sudarto, perupa lainnya yang ambil bagian dalam pameran ini antara lain Laksmi Sitaresmi, Agus riyanto BP, Camelia Hasibuan, Hadi Susanto, Joseph Wiyono, dan Nasirun. bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here