Home Berita Menatap Merapi, GKR Hemas Masygul

Menatap Merapi, GKR Hemas Masygul

78
0
SHARE
MERAPI : GKR Hemas bersama cucunya, Raden Mas Gustilantika dalam foto yang dibagikan kepada wartawan, melihat kondisi kerusakan akibat tambang di Sungai Gendol, Cangkringan, Sleman. (tiras.co/Ist)

SLEMAN, tiras.co – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal DI Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas mengungkapkan kekesalannya setelah mendapat pengaduan dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dalam kunjungannya ke Hargobinangun Selatan, Kecamatan Pakem, Sleman-DIY, Rabu (9/9/2020) lalu.
Permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X itu didampingi cucunya, Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusumo, juga melihat kerusahan di lingkungan lereng Gunung Merapi. “Aku ki anyel, kok rasane kaya diapusi (saya masygul, rasanya seperti ditipu selama ini – red),” kata Gusti Ratu Hemas seperti dikutip dari press release yang diterima redaksi tiras.co, seusai mendengar keluhan anggota Gapoktan di Bangsal Sompilan, Sawungan, Hargobinangun, Pakem, Sleman.
Hemas tidak dapat menutupi kemasygulannya kepada pelaku usaha tambang yang melakukan praktik penambangan dengan sembrono, sehingga merugikan kelompok masyarakat lain.
Kepada Ratu Hemas, sebanyak 22 pengurus Gapoktan Hargobinangun Timur mengadu. Mereka mengeluhkan air yang dibutuhkan untuk mengairi lahan pertanian dan peternakan berlumpur akibat penambangan pasir di Kali Kuning. Dalam pertemuan itu, Lurah (Pjs) Hargobinangun Suhardiman menyampaikan, anggota kelompok tani dan masyarakat sudah beberapa minggu terakhir merasa resah karena air baku yang dialirkan dari Kali Kuning menjadi keruh dan berlumpur pekat usai turun hujan.
Para anggota Gapoktan Hargobinangun Timur secara bergiliran mengaku terdampak dengan keruh dan berlumpurnya air. Selain itu, para anggota yang seluruh hidupnya mengandalkan pertanian dan peternakan itu menyatakan sangat bergantung pada air yang mengalir dari Kali Kuning. Mereka juga mengaku, telah berusaha dan merasa kesulitan untuk mencari titik temu dengan perusahaan tambang yang beroperasi di sungai itu.
Luasan lahan pertanian milik warga di 12 dusun dan empat pedukuhan Hargobinangun yang terdampak mencapai 80 hektar. Selain itu, belasan hektare lahan perikanan juga mengalami endapan lumpur tebal hingga puluhan centimeter yang berakibat membunuh ikan budidaya warga. Kondisi itu, masih menurut warga, kian diperparah dengan mulai sulitnya air saat musim kemarau tiba.
“Belum lama ini saya kunjungan, saat itu pejabat dinas melapor di hadapan Pak Bupati Sleman, katanya air di seluruh wilayah ini aman, bahkan bisa mengalir sampai Klaten. Lha ini baru berapa meter dari Merapi, untuk warga sendiri saja tidak terjamin,” ungkapnya kepada warga.
Melihat fakta tersebut, GKR Hemas mengaku dirinya merasa terlambat sepuluh tahunan karena baru melihat dengan mata kepala sendiri kerusakan yang timbul akibat kegiatan penambangan yang sembrono. “Saya sedih, rasanya terlambat lima atau sepuluhan tahun. Kok baru sekarang lihat sendiri kondisinya bisa begitu parah,” ucap dia.
Gusti Ratu menyempatkan diri berkeliling melintasi jalan-jalan kecil di Kecamatan Cangkringan dan Pakem sebelum menghadiri pertemuan Gapoktan Hargobinangun Selatan.

Legal dan Ilegal
Tidak hanya penambangan ilegal yang dikeluhkan Ratu Hemas tetapi juga penambangan legal yang dilakukan dengan serampangan. Ratu Hemas dengan mata kepala sendiri melihat dari jarak dekat penambangan oleh warga di tanah pribadi, yang sebenarnya merupakan daerah tangkapan air (water catchment area). Ia juga menegaskan, air dari lereng Gunung Merapi dibutuhkan tidak hanya oleh masyarakat Sleman tetapi juga di luar Sleman.
“Saya yang tinggal di Yogya juga ikut terdampak, karena wilayah ini (lereng Merapi) satu-satunya sumber aliran yang sampai ke Yogya,” katanya. bambang sk/*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here