Home Tekno Masyarakat Bisa Andil Cegah Bunuh Diri

Masyarakat Bisa Andil Cegah Bunuh Diri

667
0
SHARE
Bunuhdiri
Bunuhdiri

KETERANGAN FOTO: Talkshow membahas masalah fenomena bunuh diri. (bambang sk/tiras.co)

JOGJA, tiras.co – Kasus bunuh diri banyak kembali marak beberapa waktu terakhir. Aksi bunuh diri yang dilakukan vokalis Linkin Park Chester Bennington belum lama ini sempat menghebohkan dunia.

Ahli Kedokteran Jiwa dari UGM, Dr dr Carla Raymondalexas Marchira, Sp.KJ (K) menyebut bunuh diri dipengaruhi oleh pelbagai macam hal. Salah satunya adalah aspek budaya, seperti budaya kekeluargaan, distorsi budaya, transisi budaya, serta sosial ekonomi. Di samping itu, bunuh diri juga dipengaruhi oleh aspek genetika yang dalam diri seseorang memiliki gen pembawa bunuh diri.

“Aspek psikologi-psikiatri juga membawa pengaruh besar. Misalnya, deperesi, skizofrenia, dan kepribadian dapat menjadi pemicu tindakan bunuh diri,” tutur dr Carla dalam talkshow bertajuk Fenomena Bunuh Diri: Aspek Psikiatri dan Psikologi di Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta, Selasa (22/8/2017).

Menurutnya, maraknya tindakan bunuh diri perlu diwaspadai dan menjadi perhatian bersama agar tidak semakin meluas dan meningkat. Data WHO 2016 mencatat pada 2012 terdapat 800.000 orang bunuh diri setiap tahunnya di pelbagai belahan dunia. Angka bunuh diri tertinggi terjadi di Korea Selatan yaitu 36,8 dari 100.000 penduduk. Sementara di Indonesia kasus bunuh diri sebesar 3,7 per 100.000 penduduk yang menempatkan Indonesia pada urutan 114 dunia.

Bunuh diri menjadi penyebab utama kedua kematian pada usia 15-29 tahun. Bahkan, sekitar 75 persen kasus bunuh diri terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Carla menyebutkan, masyarakat dapat turut andil dalam upaya mencegah bunuh diri. Dengan mengenali tanda-tanda, faktor risiko, dan orang yang berpotensi melakukan bunuh diri . Faktor risiko bunuh diri meliputi banyak hal, seperti menganggur, bercerai, bulliying, banyak konflik, terisolasi secara sosial, mengalami pelecehan seksual, memiliki riwayat mutilasi, serta mempunyai riwayat orang tua depresi.

Sementara tanda-tanda orang yang akan melakukan bunuh diri bisanya sering menangis, merasa sedih, gelisah, mudah tersinggung, bingung, serta fanatik pada agama. “Bunuh diri ini merupakan kombinasi yang cukup kompleks,” paparnya.

Ahli psikologi Klinis UGM, Dra. Sumarni, M.Kes menyampaikan, untuk mencegah niat maupun tindakan bunuh diri dapat dilakukan dengan memperkuat imunitas kepribadian.

Pasalnya, salah satu faktor upaya percobaan bunuh diri berasal dari keberanian individu untuk melakukan tindakan bunuh diri.

Ia menekankan pentingnya membangun kelekatan dalam keluarga, khususnya ibu untuk anak usia 0-18. Hal ini penting dilakukan karena jika di awal kehidupan tercipta ketenangan, sehingga tidak rentan mengalami gangguan jiwa. (bambang sk/tiras.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here