Home Berita Literasi Solusi Perangi Informasi Hoax

Literasi Solusi Perangi Informasi Hoax

491
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara minta agar masyarakat berperan dalam menyaring informasi-informasi nakal di medsos. Karenanya, literasi adalah solusi terbaik untuk menghadapi arus informasi yang sangat cepat tersebut.

Demikian disampaikan Rudiantara saat tampil berbicara dalam Pengajian Ramadhan Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertema “Dakwah Pencerahan Zaman Milenial” di Kampus UMY, Kamis (24/5/2018) malam.

Ia sebutkan, di Indonesia saat ini ada 254 juta sim card yang dimiliki orang Indonesia. Dengan pendekatan 2/3, maka kurang lebih ada 175 orang Indonesia yang memiliki handphone minimal satu. Dari 175 orang tersebut setidaknya ada sekitar 143 juta penggunaa internet yang 100 persen aksesnya melalui ponsel pada 2017. Ponsel ini disebutnya bisa jadi biang kerok, dengan mudahnya mengakses medsos, media online, dan instant messenger seperti facebook, WhatsApp, dan lainnya.

Menkominfo juga menyebut tiga tipe masyarakat Indonesia dalam menggunakan media tersebut, yakni untuk mencari teman, mencari berkah dan mencari informasi yang tentu berdampak positif dan negatif. Hal negatif ini disebutnya bermasalah, seperti pesan-pesan palsu yang disebarkan oknum tidak bertanggung jawab, dengan maksud tertentu seperti menimbulkan perpecahan.

Diakui yang sulit adalah pada instant messenger seperti WhatsApp karena hal ini bersifat pribadi. Sehingga pemerintah tidak bisa mengintervensi informasi-informasi yang mengalir dalam media tersebut, seperti berita hoax, pesan ancaman dan sebagainya. Untuk itu diingatkan jangan sembarangan di dunia maya, karena dunia maya adalah dunia yang tidak terbatas. Dalam hal ini peran pemerintah ada 2, yaitu meningkatkan literasi dan membatasi akses, seperti situs pronografi dan sebagainya. “Saat ini yang kami lakukan adalah pembatasan akses, namun sebetulnya peningkatan literasi itu hal yang lebih bagus agar masyarakat Indonesia dapat memilih dan memilah informasi atau konten yang akan mereka konsumsi.”

Selain itu, jika melihat dari sikap masyarakat Indonesia yang masih mudah menerima dan ikut menyebarkan berita-berita hoax, literasi memang sangat diperlukan. Menurutnya ada tiga cara mengidentifikasi berita hoax. Pertama, ada kata-kata “dari grup sebelah”, kedua mengatasnamakan golongan tertentu, ketiga pada akhir pesan biasanya ada tulisan “ayo viralkan”. Maka, diingatkan jangan ikut-ikutan menyebarkan pesan tersebut karena selain rugi pulsa, beritanya belum tentu benar.

Rudiantara mengakui saat ini pemerintah, khususnya Kominfo, tidak sanggup menghadapi 143 juta orang, yang kalau satu orang posting 10 kali maka ada 1,4 miliar postingan. “Tapi kalau yang kurang kerjaan bisa membuat 100 postingan. Jadi saya mengajak teman-teman di Muhammadiyah untuk sama-sama beriterasi. Caranya, membuat tulisan-tulisan yang positif yang akan diupload nantinya, dengan tujuan menyaingi info-info yang negatif. Kedua, meningkatkan literasi karena ini yang bagus bukan hanya memblokri, melalui literasi masyarakat akan berdaya tahan terhadap info-info negatif.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here