Home Berita Kreativitas Bisa Dilatih

Kreativitas Bisa Dilatih

453
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Kreativitas seseorang bisa dilatih, bukan bawaan sejak lahir. Meski demikian tidak semua orang bisa menjadi inovator. Demikian disampaikan pakar manajemen sekaligus Ketua Program MM FEB UGM, Hany Handoko MBA, PhD dalam talkshow bertajuk “Menemukan Masalah, Menggali Ide Bisnis” di Auditoriium MM UGM Yogyakarta, kemarin.

Menurutnya, melahirkan manusia kreatif dan inovator bisa dilatih dengan menggali ide dan mengeksekusi ide tersebut ke masyarakat. “Kreatifitas bukan dibawa sejak lahir, tapi bisa dilatih,” jelas Hany Handoko.

Disebutkan, seorang Steve Jobs yang dikenal sebagai inovator teknologi ternyata bisa melahirkan karya inovasi dengan melatih diri. Ia ceritakan kisah Steve Jobs yang awalnya menemukan sebuah masalah dimana komputer yang dihidupkan menimbulkan suara bising karena adanya suara motor kipas dalam perangkat kerasnya. “Bayangkan, ia sampai ke India untuk kontemplasi mencari ide,” katanya.

Hany Handoko mengharapkan anak-anak muda bisa melahirkan kreatifitas serupa dengan melahirkan ide baru dan mampu mengimplementasikannya menjadi sebuah ide bisnis. “Setiap ada masalah muncul ide, bukan lagi gerutuan,” ujarnya.

Meski demikian diakui untuk mengeksekusi sebuah ide tentu tidak mudah. Bahkan, banyak tantangan yang harus dihadapi dan diatasi apalagi dalam rangka mengembangkan sebuah usaha bisnis rintisan atau startup, “Usaha rintisan bisa menjadi solusi untuk penciptaan lapangan kerja dan permasalahan sosial saat ini,” katanya.

Sementara Deputi Program MM UGM Bayu Sutikno, PhD menuturkan aspek pendanaan masih menjadi kendala terbesar bagi pengembangan bisnis rintisan di Indonesia. Selain itu, soal tarif perpajakan dan perlindungan konsumen masih jadi persoalan yang banyak ditemukan di lapangan. Diibaratkan bayi, startup yang baru bangun itu sudah dikenai pajak, selanjutnya aturan perlindungan konsumen masih perlu diperbaiki karena urusan privasi dan kualitas produk sangat diperlukan.

Fadli Wilihandarwo, CEO startup Pasienia mengakui dirinya sempat mengalami kegagalan dalam masa pengembangan aplikasi yang menghubungkan komunikasi antarpasien. “Meski sempat menang di kompetisi google, saat lauch kita memiliki 3000 user namun pernah turun hingga tinggal 5 user saja,” kenangnya.

Pengalaman tersebut sangat berarti baginya selaku founder aplikasi tersebut hingga ia bersama ketiga rekannya mengevaluasi penyebab user meninggalkan layanan aplikasi tersebut. ”Kegagalan menjadi penyemangat, jangan sampai setiap kegagalan membuat kita terhenti berkreasi,” ingatnya.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here