Home Senggang Ketika Para Profesor Menari “Beksan Pitutur Jati”

Ketika Para Profesor Menari “Beksan Pitutur Jati”

211
0
SHARE
14CPROFESOR-FOTO
Para penari profesor sedang membawakan tarian Jawa tradisional Beksan Pitutur Jati ciptaan Paku Alam IX. (Foto: tiras.co/bambang sk)

JOGJA, tiras.co – Tujuh profesor menyuguhkan tarian Jawa “Beksan Pitutur Jati” di hadapan KGPAA Paku Alam X dan ratusan tamu undangan yang hadir pada Tingalan Wiyosan Dalem atau peringatan ualng tahun ke- 59 Paku Alam X yang juga Wakil Gubernur DIY di Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta, Jumat (13/3). Ketujuh guru besar yang menarikan beksan ciptaan almarhum Paku Alam IX itu adalah Prof Dr Y Sumandiyo Hadi dan Prof Dr Dr I Wayan Dana (ISI Yogyakarta), Prof Dr Djazuli (UNNES Semarang), Prof Dr Sri Rochana Widyastutieningrum dan Prof Dr Nanik Sri Prihatini (ISI Surakarta), serta Prof Dra Indah Susilowati dan Prof Dr Ir Erni Setyowati (UNDIP Semarang). Selama seperempat jam, para penari sepuh itu menunjukkan kepiawaiannya dalam membawakan Beksan Pitutur Jati. Pitutur sendiri berarti ajaran atau nasehat, sedangkan jati berarti bersungguh-sungguh. Sehinggga Pitutur Jati, dapat dimaknai sebagai ajaran tentang kesungguhan, hati, sikap dan perilaku. Inti dari beksan Pitutur Jati, menurut KRT Radyo Wisroyo, humas tingalan wiyosan dalem yakni pemberian nasehat kepada generasi muda untuk selalu berpegang teguh pada nilai-nilai luhur kebaikan, kesahajaan, tata krama dan kerendahan hati yang diajarkan leluhur. Tujuannya, generasi muda tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan. ”Tarian juga menggambarkan kerukunan, keselarasan, keseimbangan, keserasian, dan sikap saling menghormati. Yang direpresentasikan oleh adanya penari laki-laki dan perempuan menari beriringan satu sama lain,” tutur Radyo. Dengarkan Rakyar Prof Wayan, salah satu penari mengartikan, melalui Beksan Pitutur Jati ciptaan Paku Alam IX ini dimaksudkan agar pemimpin mau mendengar keluh-kesah rakyatnya. Jangan hanya maunya di atas tapi juga mau mendengarkan pula keluh-kesah dan informasi masyarakat perkotaan maupun perdesaan. Beksan ini sudah untuk kedua kalinya dibawakan Prof Wayan. Dulu, lima-enam tahun lalu, ia juga pernah membawakan Beksan Pitutur jati di acara Paku Alam IX. Beksan harus dibawakan oleh penari yang bergelar profesor karena paling pantas memberikan teladan atau ajaran kepada mahasiswa dan masyarakat adalah maha guru. Penampilan ketujuh penari sepuh membawakan beksan memukau para tamu undangan dari belasan kerajaan daerah lain. Mereka tepuk tangan gemuruh usai tarian Beksan Pitutur Jati disuguhkan. Paduka Paku Alam X disertai permaisurinya menyalami satu persatu para penari begitu mereka selesai pentas. bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here