Home Tekno Kesadaran tentang Keragaman Perlu Dirawat dan Diperkuat

Kesadaran tentang Keragaman Perlu Dirawat dan Diperkuat

575
0
SHARE
keberagaman
KEBANGSAAN: Para pembicara tampil dalam diskusi kebangsaan di Kampus USD.Mrican (tiras.co/Bram Antareja)

JOGJA, tiras.co– Pengabaian terhadap realitas keragaman bisa muncul kapanpun karena berbagai faktor, terlebih ketika politik kekuasaan lebih dominan daripada politik kebangsaan, saat praktik politik dan kehidupan lain lupa disemati dengan etika.

“Sikap tidak peduli terhadap realitas keragaman bisa sama artinya dengan sikap tidak peduli terhadap keIndonesiaan,” kata sejarawan dari Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta Dr Anton Haryono MHum dalam Diskusi Kebangsaan IX bertema “Kebangsaan Dalam Religi dan Budaya” di Kampus USD Mrican, Yogyakarta, Selasa (24/10/2017). Tampil pula berbicara adalah Dosen UIN dan Anggota Dewan Kebudayaan Dr Moh Damawi, Dosen UNY dan Ketua Ikatan Sastrawan Indonesia Prof Dr Suwardi Endraswara MHum, dan Sejarawan USD Dr Purwanta MA.

Dalam diskusi yang diselenggarakan Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta itu disampaikan kesadaran akan keragaman yang telah tumbuh di Indonesia dan berkontribusi besar dalam proses penjadian nation state Indonesia. Meski demikian diakui kesadaran itu tidak serta merta terbebas dari gangguan.

Mengingat keragaman merupakan realitas Indonesia, lanjut Anton, maka kesadaran mengenainya perlu dirawat dan diperkuat secara berkelanjutan oleh seruruh komponan bangsa. Karena itu, realitas Indonesi yang beragam dan nilai strategis dari kesadaran mengenainya penting untuk dinarasikan terus menerus secara kontekstual.

Ketua Lembaga Pendidikan dan pengabdian Masyarakat (LPPM) USD ini mengingatkan, efektivitas dan produktivitas narasi akan membesar bila praktik politik dan kehidupan lain mengindahkan etika. Bahkan,praktik seperti itu bisa dipahami sebagai narasi tersendiri yang potensial untuk menangkal berkembangnya pengabaian terhadap realitas keragaman.

Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam berbagaai aspek kehidupan tentu saja akan mampu memperkokoh kebangsaan Indonsia. Namun diyakini kemampuan ini tidak akan pernah optimal bila subjek implementasi yang diharapkan sebatas pada warganegara. “Menurut hemat saya, justru negaralah yang harus menjadi subjek utama implementasi, khususnya melalui usaha-usaha nyata untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial,” kata Anton seraya menyebutkan, sikap hidup inklusif akan semakin kokoh seiring dengan terwujudnya kesejahteraan dan keadilan sosial.

Menurutnya, keragaman sebagai realitas sosial dalam arti luas akan bergandengan secara erat dengan kesadaran kuat mengenainya. “Dalam kondisi demikian, beberagaman sebagai anugerah pun akan terus berlanjut,” harapnya.

Sejarawan USD lainnya Dr Purwanta mengakui sampai sekarang Pancasila relatif sempurna sebagai cita-cita bersama Indonesia sebagai bangsa. “Permasalahan terletak pada pada bagaimana metode atau cara mewujudkannya,” katanya.

Menurutnya, sebagai pilar penyangga eksistensi Indonesia, kedua pilar utama yakni kesamaan pengalaman historis dan cita-cita harus terus dirawat. “Pada bidang sejarah perlunya segera disusun kembali sejarah nasional. Perbedaan ideologi dan latar akademik sejarawan kiranya segera dimusyawarahkan agar tercapai kesepakatan,” ujarnya seraya menyebutkan tujuan kajian sejarah tidak hanya merekonstruksi dan menjelaskan fenomena masa lampau, tapi juga mewariskan perjuangan panjang yang penuh pengorbanan dan keuletan dari masyarakat Indonesia masa lampau untuk mewujudkan tata nilai yang diyakini. Agar generasi 50-100 tahun mendatang tidak berangkat dari nol, tapi melanjutkannya.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here