Home Berita Jokowi Membuat Terobosan Baru

Jokowi Membuat Terobosan Baru

184
0
SHARE
Prof Dr Erwan Agus Purwanto. (tiras.co/istimewa)

JOGJA, tiras.co – Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin telah mengumumkan susunan kabinet. Ada 38 nama yang masuk dalam Kabinet Indonesia Maju dan dari 38 nama tersebut ada wajah baru dan juga lama. Mereka yang masuk dalam kategori wajah baru antara lain Erick Tohir, Nadiem Makarim, Wishnutama, dan Prabowo Subianto.

Pakar Kebijakan Publik UGM, Prof Dr Erwan Agus Purwanto memandang ke-38 orang yang masuk dalam kabinet belum bisa dikatakan ideal. Namun demikian ia menilai tampaknya Jokowi melakukan terobosan baru seperti memasukkan nama Nadiem sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

”Secara keseluruhan 38 orang yang terpilih tidak ideal, tetapi realistis dari berbagai macam tujuan yang ingin dicapai Presiden Jokowi untuk mewujudkan visi misi, rekonsiliasi, koalisi, partai dan lainnya,” ungkap Erwan.

Ia mengatakan kombinasi antara politisi dan profesional dalam kabinet baru merupakan keinginan Jokowi untuk mencapai berbagai tujuan. Setidaknya 50 persen susunan kabinet diisi dari profesional. Masuknya partai politik tentu untuk mencapai tujuan rekonsiliasai dan koalisi.

Misalnya saja Prabowo masuk dalam jajaran kabinet untuk meredam dan menghilangkan polarisasi di masyarakat akibat pilpres 2019 lalu. Dengan begitu kabinet baru dapat bekerja dengan lebih tenang untuk merancang berbagai kebijakan.

Bangun SDM

Menurutnya masuknya profesional untuk mewujudkan visi misi Presiden Jokowi lima tahun ke depan untuk membangun SDM, melanjutkan pembangunan infrastruktur, menjaga stabilitas ekonomi, mendorong investasi, serta mengembangkan industrialisasi.

Ia menyebutkan sejumlah nama dari kalangan profesional sempat viral dan menjadi pembicaraan publik. Salah satunya adalah ditunjukknya Nadiem Makaraim menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ia menilai dipilihnya bos Gojek tersebut menjadi menteri merupakan sebuah terobosan baru.

”Dipilihnya Nadiem bisa membawa angin segar dengan memberi terobosan baru dalam dunia pendidikan dan kebudayaan menghadapi era digital, disrupsi, dan revolusi industri,” tandasnya.

Dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi saat ini menurutnya kurang merespon perkembangan dunia. Padahal, dunia terus berubah, bahkan saat ini berhadapan dengan berbagai tantangan revolusi industri 4.0 yang tentu sangat berpengaruh pada pendidikan.(yudhistira)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here