Home Berita Industri Keuangan Syariah Meningkat

Industri Keuangan Syariah Meningkat

466
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Direktur Eksekutif Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) Herbudhi S Tomo menyebutkan pangsa pasar industri keuangan syariah terus meningkat. Total aset industri keuangan syariah Indonesia hingga Mei 2018 sebesar 8.38 persen terhadap total keuangan nasional.

“Ini menunjukkan ada peluang yang bisa diambil dan kita ditantang untuk meresponnya,” katanya dalam seminar nasional “Peluang dan Tantangan Ekonomi, Keuangan dan Bisnis Syariah dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0 di Kampus Pascasarjana UMY, Kamis (30/8).

Menurut dia, salah satu peluang yang bisa diambil dengan melakukan sinergi untuk membangun ekosistem ekonomi syariah yang dilakukan oleh setiap elemen, baik masyarakat, akademisi, media, regulator dan bank syariah itu sendiri. Misalnya, untuk aspek masyarakat adalah bagaimana mereka supaya mampu membuka rekening dan bertransaksi melalui perbankan syariah. Salah satu alasan kenapa masyarakat kurang berminat dengan bank syariah adalah karena fitur dan pelayanan yang belum sama dengan standar bank konvensional. “Ini yang jadi salah satu tantangan untuk bank syariah,” sebutnya.

Sebelumnya disebutkan survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia ( APJII), ada sebanyak 143,26 juta orang yang menggunakan internet di Indonesia. Menurutnya, 80 persen dari angka tersebut merupakan jumlah pengguna internet yang dilakukan melalui smartphone. Fakta ini menjadi sebuah peluang yang diambil oleh berbagai pihak, tak terkecuali bidang perbankan syariah dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Herbudhi menyampaikan bahwa efek dari revolusi industri tersebut harus diikuti karena saat ini tingkat penetrasi internet dalam aktivitas kehidupan masyarakat sebesar 57 persen dan diperkirakan pada 2020 akan mencapai 88 persen. Hal yang kemudian direspon perbankan dengan melakukan berbagai inovasi yang memudahkan nasabah, seperti membuat aplikasi perbankan mobile. Peluang ini juga berlaku bagi perbankan syariah, bagaimana mereka mampu beradaptasi dengan perubahan dan kemajuan tersebut. Karena jika dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia, perkembangan ekonomi syariah tergolong lamban.

Menurutnya bukan hanya soal perbankan, namun juga mencakup berbagai kegiatan ekonomi makro lainnya dan ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Umpamanya dalam industri makanan halal dunia, pada 2016 jumlah konsumsi makanan halal sebesar 1.245 miliar US dolar dan Indonesia memiliki tingkat konsumsi makanan halal tertinggi di dunia. “Sayangnya kita masih berkutat dalam konsumsi dan belum merambah industri produksinya, ini yang kemudian menjadi peluang ekonomi syariah untuk Indonesia. Apalagi Indonesia juga menjadi salah satu destinasi wisata halal dunia,” jelasnya.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here