Home Berita Indonesia Bangun Fasilitas Kesehatan di Rakhine

Indonesia Bangun Fasilitas Kesehatan di Rakhine

604
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Pemerintah Indonesia terus menggulirkan bantuan untuk pemulihan perdamaian di Rakhine, Myanmar. Selain memberi bantuan kemanusiaan, Indonesia juga merencanakan pembangunan fasilitas kesehatan di Myaung Bywe, Marukh U, negara bagian Rakhine.

Staf Ahli Bidang hubungan Antarlembaga, Kementerian Luar Negeri RI Salman Al Farisi mengungkapkan hal itu dalam diskusi tentang perkembangan di Myanmar, akhir pekan kemarin di UGM. Diskusi membahas situasi terkini dalam konflik yang terjadi di Rakhine serta langkah-langkah pemerintah membantu penyelesaian secara damai.

“Indonesia menawarkan empat formula yakni mengembalikan perdamaian dan stabilitas, menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan, perlindungan kepada semua orang yang berada di negara bagian Rakhine tanpa memandnag suku dan agama serta membuka akses untuk kemanusiaan,” papar Salman.

Ditegaskannya, Pemerintah Indonesia berkomitmen menuntaskan konflik di negara bagian Rakhine, Myanmar. Beberapa waktu lalu telah membawa misi perdamaian juga meluncurkan program bantuan kemanusiaan untuk komunitas yang berkelanjutan. Selain itu penandatanganan komitmen bantuan dari 11 organisasi masyarakat. Bantuan kemanusiaan pada Myanmar diwujudkan dengan melakukan pengiriman dan pembangunan sekolah di Sittwe.

Penanganan Berkesinambungan

Ia menambahkan Indonesia juga memberikan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya di perbatasan Myanmar-Bangladesh. Sebelumnya juga telah dilakukan dialog dengan Myanmar di Jakarta dan Yogyakarta.

Tidak ada yang bisa menjamin persoalan di negara bagian Rakhine bisa cepat selesai karenanya konflik ini harus ditangani secara berkesinambungan,” tandas Salman.

Pada kesempatan lain, guru besar hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof Dr Tulus Warsito mengatakan kasus yang terjadi di Rohingya kurang relevan jika hanya dikatakan berkaitan dengan isu agama Islam. Namun lebih kompleks lagi, kasus Rohingya merupakan masalah pluralisme, perbatasan dan kewarganegaraan.

Tiga hal itu mengakibatkan masyarakat Rohingya mengkristal menjadi gerakan separatis yang menginginkan Rakhine menjadi negerinya sendiri. Untuk mengatasi hal tersebut, harus diangkat menjadi isu internasional,” ujarnya.

Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Budi Setiawan menjelaskan salah satu kesulitan yang dihadapi dalam membantu kasus Rohingya adalah perilaku etnis Rohingya yang kurang mendukung.

Namun pihaknya tetap memegang prinsip membantu kemanusiaan dan tidak memandang etnis dan agama. Ia dan teman-temannya sangat berhati-hati karena ada isu agama yang terus berhembus.

yudhistira

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here