Home Tekno Henry, Tunarungu Lulus Teknik Informatika USD

Henry, Tunarungu Lulus Teknik Informatika USD

847
0
SHARE
Tunarungu
LULUS MEMUASKAN: Henry Restya Susetya tunarungu dan wicara bersama orang tuanya usai pelepasan lulusan Teknik Informatika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. (yudhistira/tiras.co)

LEBIH seribu mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta akan diwisuda Sabtu (9/9/2017). Di antara sekian banyak wisudawan salah satunya Henry Restya Susetya. Sekilas tidak ada yang berbeda antara dia dan mahasiswa lainnya, normal-normal saja.

Perbedaan hanya tampak saat mengajaknya berbincang. Ia akan menyimak serius gerakan bibir lawan bicara dan membalas perbincangan dengan gerakan jari. Ahh..,, ternyata Henry penderita tunarungu sejak lahir. Ia lebih suka disebut dengan istilah tuli, lebih singkat dan tanpa basa basi. Bahkan temen-teman komunitasnya juga lebih menyukai istilah tersebut.

”Sejak lahir saya tuli total tidak bisa mendengar apapun, alat bantu dengar juga tak membantu,” tutur Henry melalui penterjemahya di kampus USD Paingan, Sleman.

Pria yang lahir di Purworejo 25 Juni 1991 ini terlambat memasuki sekolah karena tidak banyak lembaga pendidikan yang mau dan mampu menerima anak berkebutuhan khusus. Orangtuanya pernah mengelilingi Purworejo mencari sekolah inklusi dan tidak ada yang bisa menerima. Akhirnya, ia disekolahkan di SLB Don Bosco Wonosobo yang khusus untuk anak-anak tunarungu dan tunawicara.

Perkembangannya cukup pesat dan dapat menyesuaikan dengan anak-anak normal. Namun kesulitan kembali menghadang ketika mencari SMA. Ayahnya, Supraptono berkeliling sampai penjuru DIY mencari sekolah inklusi. Lagi-lagi tak ada yang bisa menerima Henry. Menjelang detik-detik akhir pendaftaran siswa baru, ia mendengar ada SMK Pangudi Luhur Muntilan mau menerima anak berkebutuhan khusus.

Jalur Prestasi

Menempuh pendidikan di sekolah umum tentu saja banyak kendala, tapi Henry malah merasa senang dan tertantang. Ia bisa bergaul dengan siapa saja tak hanya anak-anak berkebutuhan khusus. Selepas SMK, dirinya mantap mendaftar melalui jalur prestasi ke Teknik Informatika USD dan dinyatakan diterima.

Karena kesulitannya mendengar dan berbicara itulah yang membuat Henry bersemangat harus bisa menyelesaikan pendidikan tinggi. Buku-buku dilahapnya di waktu senggang. Sejak kecil ia terbiasa membaca buku, entah pelajaran maupun pengetahuan umum. Tak heran selama di sekolah umum selalu menduduki peringkat atas. Sayang, ia tak bisa mengikuti berbagai lomba karena umurnya di atas teman-temannya.

Lulus dengan nilai tinggi dan berhasil menciptakan aplikasi untuk anak-anak tuli menjadi pencapaian puncaknya saat ini. Ia masih ingin menggapai asa lebih tinggi, menjadi guru negeri di kota kelahirannya, Purworejo. Ia ingin membantu anak-anak berkebutuhan khusus supaya bisa meraih mimpi seperti dirinya. Ia ingin di kota-kota kecil di daerah ada guru atau sekolah yang mau dan mampu membimbing anak-anak berkebutuhan khusus.

yudhistira/tiras.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here