GKR Mangkubumi: Go Digital, Peran Milenial Selamatkan UMKM

25GKR
GKR Pembayun (Ist)

JOGJA, tiras.co – “Go digital,” seru GKR Mangkubumi, Ketua Umum BPP Asosiasi Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (AKU) tentang bagaimana UMKM bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19. Seruan itu disampaikannya di depan 2.000-an peserta Webinar Nasional “Peran Milenial dalam Membangkitkan Ekonomi UMKM” yang diselenggarakan BPR MSA dan Akumandiri DIY, Kamis (23/9/2021) lalu.
Diwakili Iyuk Wahyudi, Sekjen AKU, Gusti Mangkubumi menandaskan pentingnya UMKM mengubah paradigma menuju “new normal UMKM”. Sebab, dalam masa pandemi, UMKM terseok-seok hingga hanya bisa mengantongi omset 10-15% dibandingkan pada situasi normal.
Gusti Mangku memaparkan data, 59% UMKM beralih fokus ke e-commerce, terjadi lonjakan transaksi daring 69%, terjadi kenaikan konsultasi kesehatan dan pembelian obat secara daring 41%, dan pemakaian pembayaran lewat cara digital melonjak 65%. Ia tambahkan, perubahan perilaku konsumen mesti disikapi pelaku UMKM dengan memanfaatkan teknologi.
“Milenial bisa berperan sebagai influencer pro-bono bagi UMKM,” ujar Gusti Mangku. Dengan pengikut (followers) yang banyak, milenial bisa mendorong penjualan produk-produk UMKM secara cuma-cuma. Bantu promosikan warung-warung yang jauh dari akses jalan raya, misalnya.

Kelola SDM
Djoko Kurniawan, Ketua Bidang Diklat dan Pembinaan DPP Akumandiri menyambut ajakan itu dengan menunjukkan apa yang bisa milenial kerjakan untuk membantu UMKM. “Ada empat penyakit UMKM di Indonesia: tidak bisa kelola SDM, tidak tahu marketing, tidak mau catat keuangan, dan kurang kreatif mengembangkan usaha.” Padahal, menurut data, ada 64,2 juta UMKM di Indonesia dengan serapan 97% tenaga kerja. Betapa besar peran yang bisa diambil milenial untuk menyelamatkan UMKM dari penyakit ini.
Untuk itu, kampus ikut ambil peran dalam program “Merdeka Belajar Kampus Merdeka” yang dicanangkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim. Papar Rektor Universitas Ahmad Dalam Muchlas, kampus sudah memfasilitasi mahasiswa sebagai pendamping UMKM. Bagi mahasiswa yang aktif bisa mendapatkan rekognisi atas kegiatannya sebesar 20 SKS. Syaratnya hanya tiga. Pertama, memiliki rencana bisnis dan target jangka panjang dan pendek. Kedua, berhasil mencapai target penjualan sesuai target yang ditetapkan di awal. Ketiga, bertumbuhnya SDM di perusahaan sesuai rencana bisnis. “Dengan ini, mahasiswa bisa cepat lulus, cepat kaya,” ujar Muchlas.
Sedangkan Tyovan Ari Widagdo, Wakil Rektor IV Universitas Nahdlatul Ulama yang juga pengusaha Vemobo, Bahaso, dan Edumo lebih mengelaborasi pengalaman dirinya sebagai pengusaha muda dengan banyak pencapaiannya. Ia berbagi cerita bagaimana sejak sekolah ia sudah menjadi wirausaha. “Berjejaringlah. Jangan berharap instan. Semua berproses. Adaptasi, inovasi, dan punya skill,” itu inti materi Tyovan.
bambang sk/*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here