Home Berita Gerakan Suluh Kebangsaan Jaga Keutuhan NKRI

Gerakan Suluh Kebangsaan Jaga Keutuhan NKRI

389
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Di tengah maraknya potensi perpecahan kompenen bangsa akibat munculnya politik identitas yang saling menyerang belakangan ini, maka perlunya gerakan untuk memperkuat dan mempersatukan kembali kebangsaan.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Mahfud MD selaku Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan menjelaskan, Gerakan Suluh Kebangsaan ini berawal dari gagasan dirinya bersama Alissa Wahid, Romo Beny Susetyo dan Budi Kuncoro. “Gerakan ini mendapat dukungan dari para tokoh, seperti Buya Syafii Maarif, Gus Mus, Ibu Shinta Nuriyah, dan lainnya,” katanya di sela deklarasi Gerakan Suluh Kebangsaan di Bale Raos kompleks Keraton Yogyakarta, Rabu (9/1/2019). Acara menghadirkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Syafii Maarif, dan Romo Beny Susetyo.

Mahfud melihat saat ini juga ada kecenderungan kontestasi untuk mencari menang dan bukan mencari yang baik. “Diam-diam radikalisme menumpang dan mengadu domba melalui produksi berita-berita hoax. Berita-berita bohong ini banyak mempengaruhi persepsi masyarakat,” ucapnya khawatir.

Melihat situasi tersebut, maka perlu adanya sebuah gerakan bersama untuk lebih mengedepankan dialog, menjunjung tinggi kebersamaan dan menghargai kebhinnekaan dalam bingkai NKRI. “Kami akan mendorong kebebasan menentukan pilihan secara demokratis tanpa bermusuhan pada Pemilu nanti,” paparnya.

Berbagai kegiatan akan dilakukan dalam gerakan ini. Selain sarasehan kebangsaan bersama para tokoh keagamaan, juga dialog kebangsaan bersama civitas akademika di kampus-kampus. Dengan gerakan ini diharapkan memeprkuat rasa nasionalisme, memperkokoh persatuan dan keatuan untuk kejayaan Indonesia.

Buya Syafii mengakui ancaman perpecahan untuk Indonesia masih ada, karena Indonesia sendiri berdiri sebagai sebuah negara belum genap seabad usianya, sehingga berbagai potensi yang mengancam persatuan dan kesatuan itu masih besar.

Ia mengibaratkan Indonesia saat ini masih dalam tahap proses menjadi bangsa. Sehingga sebagai bangsa belum jadi betul. Bangsa ini baru terpikirkan tahun 1920-an. Buya menyebutkan rentannya persatuan bangsa itu sempat diuji pula dengan berbagai peristiwa politik. “Gejala perpecahan sudah kentara saat berlangsungya Pilkada DKI Jakarta 2016 lalu. ‘Pilkada DKI Jakarta itu sampai membelah bangsa ini ke akar rumput, sampai ke ujung.”

Sultan HB X menyebutkan, sejak beberapa tahun terakhir ini nilai-nilai kebangsaan sudah kian luntur. Padahal negara maju, seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang dan banyak lagi negara maju lainnya tetap terus membina jiwa nasionalisme supaya tidak luntur. bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here