Home Tekno Gerakan Literasi Digital di Yogyakarta Sangat Tinggi

Gerakan Literasi Digital di Yogyakarta Sangat Tinggi

923
0
SHARE
Literasi
LITERASI DIGITAL: Para peneliti Japelidi sampaikan hasil penelitian gerakan literasi digital di Indonesia. (bambang sk/tiras.co)

JOGJA, tiras.co – Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) merekomendasikan literasi digital harus diberikan dalam level keluarga, sekolah dan negara.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Dyna Herlina mengatakan pada level keluarga, orangtua harus menjadi contoh serta melibatkan anak sebagai partner dalam membuat kesepakatan-kesepakatan atas akses media digital.

Sedangkan pada level sekolah, harus ada perubahan ke arah pendidikan berbasis digital, yaitu murid dan guru adalah setara dan harus menguasai konten pembelajaran bersama. Selain itu, orangtua juga harus berkolaborasi dengan guru dalam pendidikan anak, serta penyediaan laboratorium media digital.

“Pada level pemerintah, harus didorong transformasi digital dengan membangun infrastruktur digital yang demokratis, memperkuat e-governance serta memberdayakan warga negara sebagai bagian dari kewarganegaraan digital (digital citizenship),” kata Dyna kepada pers dalam memperingati Hari Literasi Internasional 2017 di Yogyakarta, Minggu (10/9/2017).

Dalam peringatan Hari Literasi Internasional bertema ‘Literasi dalam Dunia Digital’ kali ini, Japelidi menyampaikan hasil penelitiannya tentang gerakan literasi digital di Indonesia.

Koordinator penelitian Japelidi yang juga Ketua Prodi S2 Ilmu Komunikasi UGM, Novi Kurnia mengungkapkan, Japelidi menemukan setidaknya 338 kegiatan literasi digital di 9 kota, yaitu Yogyakarta, Salatiga, Semarang, Surakarta, Malang, Bandung, Banjarmasin, Bali dan Jakarta. “Sejak April lalu, kami memetakan gerakan literasi digital yang telah ada di masyarakat, beberapa tahun terakhir,” tuturnya.

Menurutnya, ini adalah angka yang luar biasa sebagai gerakan untuk membuat warga lebih melek media digital. Meski diakui, para pegiat gerakan literasi digital tersebut masih didominasi kalangan perguruan tinggi, selain pemda dan komunitas. Sedangkan inisiatif dari warga disebutnya masih minim dibandingkan gerakan literasi dasar (membaca). “Remaja atau pelajar, mahasiswa, masyarakat umum dan orangtua adalah target yang paling banyak disasar oleh garakan-gerakan literasi digital. Anak muda dianggap penting sebagai target sasaran gerakan untuk bisa menjadi agen dalam gerakan literasi digital,” sebutnya.

Dosen Ilmu Komunikasi UMY, Firly Annisa memaparkan secara umum gerakan literasi digital di Indonesia bersifat sukarela, tidak terstruktur, insidental, sporadis, dan tidak kontinyu. “Peran pemerintah dalam gerakan ini juga belum terlihat,” ucapnya seraya menunjukkan contoh cukup baik adalah insiatif dari Pemprov DIY yang telah melatih siswa dan guru terkait media digital.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here