Home Berita Generasi Milenial, Jauhi Terorisme!

Generasi Milenial, Jauhi Terorisme!

223
0
SHARE
Para pembicara mengajak anak muda tidak terjebak radikalisme. (tiras.co/istimewa)

JOGJA, tiras.co – Mantan teroris Machmudi Haryono alias Yusuf Adirima mengajak generasi muda milenial tidak terjerumus dalam radikalisme dan terorisme. Ia minta anak-anak muda tidak menelan mentah-mentah informasi di berbagai media sosial terutama yang bersifat provokatif.

”Saya berharap mahasiswa tidak mudah terjebak paham radikalisme Kalau ada satu pemahaman cobalah belajar dengan pembanding yang lain seperti apa agar tidak terjebak dengan itu-itu saja,” tandasnya di di Grha Sabha Pramana UGM, Selasa (5/11).

Ia hadir sebagai salah satu pembicara dalam kuliah umum bertajuk ”Pencegahan Radikalisme dan Penguatan Identitas Bangsa di Perguruan Tinggi” yang diselenggarakan Fakultas Filsafat UGM. Ia banyak menyampaikan pesan agar mahasiswa dalam memahami sesuatu dilakukan secara komperehensif.

Dalam kesempatan itu, ia membeberkan pengalamannya saat masih terjebak dalam pusaran radikalisme puluhan tahun lalu. Dirinya mengungkapkan pernah bergabung dalam kelompok Jamaah Islamiyah (JI) dan Mujahidin Moro Islamic Liberation Front (Filipina). Perang Bosnia menjadi salah satu pemicu pria ini menjadi jihadis.

Ditangkap

Yusuf ditangkap pada tahun 2003 dan divonis 10 tahun penjara karena terlibat terorisme. Saat ini telah bertobat dan aktif membantu pemerintah dalam menyuarakan perdamaian dan anti terhadap radikalisme serta terorisme.

Selain Yusuf dalam Kuliah Umum tersebut menghadirkan korban terorisme ledakan bon di Hotel JW Marriot Jakarta 2003 lalu yakni Febby Firmansyah Isran, serta motivator Dr HC Ary Ginanjar.

Febby menyatakan belum bisa melupakan tragedi kelam yang menimpanya. Akibat ledakan bom, tubuhnya mengalami luka bakar hingga 45 persen. Ia harus menjalani serangkaian operasi untuk memulihkan luka.

”Akibat tragedi bom itu saya hampir gagal menikah, mengalami trauma psikologis dan menghabiskan waktu yang lama untuk penyembuhan fisik dan mental,” tuturnya. Meskipun sudah 16 tahun berlalu, rasa taruma masih sulit hilang hingga kini. Febby mengatakan untuk menyembuhkan trauma tidaklah bisa dilakukan dengan mudah. Saat itu dia rutin mengikuti sesi konseling psikologis guna memulihkan kesehatan mentalnya.

Ia mengakui rasa dendam sempat menghinggapi pada para pelaku terorisme. Namun perasaan tersebut justru tidak membuatnya semakin membaik. Akhirnya ia berusaha memaafkan para pelaku. Ia bersyukur dan berusaha untuk lebih bersyukur lagi karena masih mendapat kesempatan hidup kedua.(yudhistira)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here