Home Berita Film, Visualisasi Teknologi di Perpustakaan Hanya Sebatas Simbol

Film, Visualisasi Teknologi di Perpustakaan Hanya Sebatas Simbol

631
0
SHARE
Nina Mayesti (bmbang sk)

JOGJA, tiras.co – Keberadaan komputer dan beragam perangkat teknologi mutakhir di perpustakaan menjadi salah satu ciri perpustakaan di era milenium ketiga. “Penggunaan OPAC (online public access catalog), tersedianya komputer serta akses ke jaringan dan internet sudah menjadi hal yang lazim di perpustakaan,” sebut pengajar dari Departemen Ilmu Perpustakaan an Informasi FIB Universitas Indonesia , Nina Mayesti SS,S Kom, MHum dalam promosi doktor di Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, Senin (9/7).

Meski demikian, setelah lebih dari dua dekade sejak implementasi teknologi informasi dan komunikasi dilakukan pertama kali di perpustakaan Indonesia, belum nampak adanya budaya pemanfaatan teknologi tersebut dalam representasi film-film Indonesia era milenium ketiga. Ia tunjukkan, dari keseluruhan film yang dikaji, hanya film Refrain. Lovely Luna dan The Tarix Jabrix 2 yang memperlihatkan adanya komputer untuk pustakawan. Sementara dalam film Pupus dan Adriana diperlihatkan adanya perangkat komputer untuk kebutuhan pengunjung, itu pun tidak digunakan. Sedangkan dalam film-film lainnya sama sekali tidak memperlihatkan adanya penggunaan komputer di perpustakaan.

Dalam disertasinya “Berkaca Di Layar Lebar: Wacana Tentang Perpustakaan Dalam Film Indonesia Era Milenium Ketiga” disebutkan, representasi teknologi yang muncul dalam film-film tersebut sama sekali tidak menonjol atau menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi elemen penting di perspustakaan. Keberadaan teknologi di perpustakaan tidak pernah ditampilkan dalam posisi dominan bagi kegiatan pustakawan maupun aktivitas pengunjung perpustakaan. “Nampaknya visualisasi teknologi di perpusakaaan hanya sebatas simbol guna memperkaya untuk dekoratif dalam film,” tunjuknya.

Hal ini, lanjut Nina, sungguh memperlihatkan cara pandang pembuat film terhadap teknologi sebagai paradoks. Keberadaan teknologi dan budaya digital yang sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia di era milenium ketiga ini, apalagi di perpusatakaan yang berurusan dengan infomrasi, ternyata tidak dianggap sebagai hal yang penting. “Teknologi belum menjadi bagian atau membentuk ulang budaya kerja dan dianggap perlu ditonjolkan sebagai identitas masyarakat,” katanya.

Promovenda menduga, persoalan budaya baca dan rendahnya minat baca di Indonesia turut menjadi faktor yang mempengaruhi arah pandang terhadap teknologi. Dan persoalan belum tuntasnya urusan budaya membaca di masyarakat indonesia, kini masyarakat mau tidak mau harus berurusan dengan informasi digital melalui beragam perangkat, gadget dan hardware. Hal itu juga dianggap sebagai lompatan yang terjadi di masyarakat.

Data menunjukkan bahwa masyarakat kita kurang – atau bahkan tidak – memanfaatkan teknologi untuk kepentingan pencarian informasi dan pengetahuan, atau membaca dalam konteks dunia digital, tetapi lebih banyak menggunakan untuk komunikasi dan kegiatan harian. “Dengan demikian tidak mengherankan jika representasi teknologi di perpustakaan hanya muncul sebatas simbol atau unsur dekoratif semata. Bukan merupakan perangkat yang menjadi bagian dari budaya membaca atau budaya kerja perpustakaan,” sebutnya.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here