Home Berita Fahmi Husaen, “Stephen Hawking” dari Jogja

Fahmi Husaen, “Stephen Hawking” dari Jogja

531
0
SHARE
Muhammad Fahmi Husae

JOGJA, tiras.co – PENYAKIT yang dideritanya menjadikan Fahmi tak mampu menggerakkan anggota tubuh. Bahkan untuk menulis pun kesulitan. Ia menjalani aktivitas sehari-hari dari kursi roda dan sebagian anggota badannya harus diikat karena lemas. Kendati demikian, mahasiswa Sekolah Vokasi UGM yang mendapat julukan “Stephen Hawking” Indonesia ini memiliki kemampuan di atas rata-rata anak normal terutama dalam bidang desain mobil sport.

Baru-baru ini, pemilik nama lengkap Muhammad Fahmi Husaen tersebut mengikuti kompetisi Muscle Car Indonesia (MCI) 2018 dan masuk ke lima besar. Ia mendesain mobil sport yang sangat aerodinamis, hemat energi, dengan model bodi yang futuristik elegan namun juga menyisakan nuansa klasik.

“Sejak SMP, terlebih saat tak mampu pergi ke mana-mana, saya mulai mencoba mendesain otomotif khususnya mobil-mobil sport,” tutur mahasiswa kelahiran 18 Meri 1997 ini.

Ia tak menghitung ada berapa hasil karyanya mendesain mobil, yang jelas ada lebih sepuluh yang digarap secara serius. Tak hanya mendesain mobil, jeroan mesin pun ia desain supaya mobil karyanya benar-benar siap jalan. Kinerja mesin, harus menggunakan mesin tipe apa, berbahan bakar minyak atau baterai, semua ia pikirkan secara matang. Bukan cuma itu, ia menggambarkan ke dalam tiga dimensi sehingga mirip aslinya.

Lantas bagaimana bisa mendesain kalau menulis saja susah? Fahmi memiliki komputer tablet yang setiap saat berada di dekatnya. Dari sinilah ia memrogram, mengutak-atik, mendesain mobil-mobil sportnya. Jemarinya masih kuat menekan tombol tablet dan menggeser sedikit demi sedikit sehingga mampu menghasilkan desain yang luar biasa.

Kecerdasannya sudah terlihat sejak dirinya terserang Duchne Muscular Distropy (DMD). Penyakit langka ini menyerangnya selepas SD. Nyaris seluruh anggota tubuh tak dapat digerakkan, lunglai. Karena tak kuat secara fisik untuk sekolah, ia belajar di rumah. Fahmi hanya berangkat saat ujian dan nilainya selalu di atas rata-rata.

Kedua orang tuanya, Murtandlo dan Anik Marwati berusaha melakukan pengobatan yang terbaik untuk anaknya. Ternyata bukan hanya Fahmi yang menderita DMD. Dua dari tiga adiknya juga mengidap penyakit tersebut. Menurut dokter, kemungkinan kelainan gen tersebut pernah menimpa salah seorang leluhur, jadi kemungkinan keturunan di bawahnya ada yang terkena.

“Beberapa tahun lalu Fahmi mencari-cari informasi cara menyembuhkan penyakitnya. Ia mendapat ada rumah sakit di India yang mampu melakukan stem sel yang diyakini mampu menyembuhkannya,” kata Anik yang selalu mendampingi anaknya ke mana pun pergi.

Hobi dan kompetensi cowok yang murah senyum ini memang pada otomotif. Karya terbarunya yang berhasil masuk lima besar kompetisi desain mobil sport menggunakan konsep mobil listrik dinamis dan elegan. Ia mendesain mobil dengan memaksimalkan aliran angin untuk meningkatkan performa namun tetap mudah dikendalikan dalam kecepatan tinggi sekalipun.

Di samping itu, ia juga membuat desain kursi roda elektric yang seluruh kerjanya menggunakan media bluetooth. Mirip kursi roda milik Stephen Hawking, dari atas sampai kaki bisa diperintah hanya dengan sekali sentuh dan bukan tidak mungkin hanya dengan perintah kata-kata.

Kini, sebagian karyanya dicoba untuk dibukukan. Fahmi fokus tentang mendesain mobil yang merupakan salah satu langkahnya agar bermakna bagi orang lain. Karya-karyanya sejak pertama kali mendesain ia kumpulkan dan kini dalam proses penulisan. Ia berharap tak lama lagi bukunya kelar dan bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.

yudhistira

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here