Home Berita Dunia Wayang Dunia Kepastian

Dunia Wayang Dunia Kepastian

579
0
SHARE

BANTUL, tiras.co – Dunia wayang adalah dunia kepastian. Dinamika dan dialektika wayang, terlebih ketika dimainkan dalang dalam suatu pergelaran, merupakan perlambang kehidupan manusia di dunia ini.

Demikian disampaikan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Dr Suminta A Sayuti dalam Diskusi Kebangsaan XII di Tembi Rumah Budaya, Bantul-DIY, Senin (22/1/2018). Diskusi mengusung tema “Kebangsaan dalam Dunia Pewayangan” diselenggarakan Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta, menampikan pula pembicara anggota DPR RI Idham Samawi.

Dalam masyarakat tradisional Jawa, tutur Prof Suminta, cerita dan pertunjukan wayang purwa (baca: wayang) sangat digemari. Di dalam wayang, hidup manusia di dunia ini dilukiskan sebagai suatu bayangan. Peristiwa demi peristiwa dan tujuan hidup berlangsung dalam tahapan-tahapan tertentu. Hidup manusia, disebutnya terjadi dan berlangsung dalam sebuah pola yang terberi, dan karenya tak terelakkan.

Pola hidup yang terberi itu, menurutnya berlaku bagi semua orang. Artinya, garis nasib orang per orang sudah tertulis dan pasti. Manusia cuma bisa pestha, tapi pesthi adalah mutlak milik ‘Yang Punya Hidup,’ Sing Gawe Urip. “Inilah yang lazim disebut sebagai prinsip pephesthen. Segala sesuatu sudah dipastikan sebelumnya. Semua hal harus mengikuti arah yang sudah ditentukan dan sejalan dengan kaidah kosmos,” tuturnya.

Sing Gawe Urip, lanjut Prof Suminta, adalah dzat transendental, yang meliputi segala-galanya, dan yang merupakan asal mula dan tujuan terakhir: sangkan paraning dumadi. Maka, tema wayang pun termasuk dalam tema kepastian dan jauh dari tema kemungkinan.

Menurut dia, membaca dan menonton wayang akan berarti pula sebagai proses beridentifikasi dengan tokoh-tokoh tertentu dan bercermin serta berteladan padanya dalam berbuat kehidupan sehari –hari. Persoalannya, tanyanya, masihkan situasi itu terjadi hingga kini ketika kehidupan kian mengglobal dan cenderung dikendalikan oleh berbagai piranti teknologis di bawah bayang-bayang pentung besi sang penggembala kehidupan yang bernama kapitalisme mutakhir? Jawabnya mudah saja: tentu tidak.

Walau demikian, lanjutnya, ketika budaya perkakas ternyata hanya mengantarkan kita menjadi manusia-manusia robotik, agaknya munculnya perasaan dan sikap nostalgik terhadap kehadairan kembali wayang, walau tidak persis seperti dalam masyarakat tradisional, menjadi wajar.

Prof Suminta menyebut wayang merupakan sebuah ‘institusi’ yang keberlangsungan kehidupannya tidak d apat dipisahkan dari kehidupan masyarakat tempat ia hidup. Hubungan antara wayang dan masyarakat bersifat simbiose mutualistik, salaing memperkaya, resiprokal. “Wayang akan survive jika mampu memberi sesuatu kepada masyarakat: hiburan sekaligus ajaran,” katanya.

Menurutnya, seberapa jauh wayang mempu memberikan dua hal tersebut kepada khalayak menjadi penentu keberlangsungan eksistensinya. “Masyarakat akan mengakui keberadaan wayang, jika ia mampu memenuhi harapnnya,” tuturnya.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here